Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pakar Beberkan Tantangan Biodiesel B50, Ini Dampaknya bagi Mesin Kendaraan
Advertisement . Scroll to see content

Pakai Biodiesel B50, Apa Mesin Kendaraan Perlu Perawatan Khusus? Begini Kata Pakar

Jumat, 03 Juli 2026 - 19:11:00 WIB
Pakai Biodiesel B50, Apa Mesin Kendaraan Perlu Perawatan Khusus? Begini Kata Pakar
Apakah kendaraan diesel yang menggunakan biodiesel B50 membutuhkan perawatan khusus? (Foto: Ilustrasi/AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Penggunaan biodiesel B50 mulai menjadi perhatian seiring rencana penerapannya sebagai bagian dari transisi energi nasional. Lantas, apakah kendaraan diesel yang menggunakan biodiesel B50 membutuhkan perawatan khusus?

Dosen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Dr Leopold Oscar Nelwan, mengatakan pada dasarnya campuran biodiesel berkadar tinggi masih dapat digunakan pada mesin diesel modern. Namun, kualitas bahan bakar menjadi faktor penting yang harus dijaga agar performa mesin tetap optimal.

"Berbagai pengujian kendaraan menunjukkan campuran biodiesel berkadar tinggi masih dapat digunakan pada mesin diesel modern tanpa penurunan performa yang berarti selama ribuan kilometer pengujian," ujar Dr Leopold dalam keterangan tertulis dilansir Jumat (3/7/2026).

Meski begitu, dia menjelaskan biodiesel memiliki karakteristik berbeda dibandingkan solar fosil. Biodiesel tersusun atas ester asam lemak yang membuatnya lebih mudah menyerap air dari lingkungan dan lebih rentan mengalami oksidasi.

Menurut Dr Leopold, proses oksidasi dapat menghasilkan peroksida, asam organik, dan gum yang berpotensi menurunkan kualitas bahan bakar. Sementara kandungan air dapat memicu hidrolisis, korosi, hingga pertumbuhan mikroorganisme apabila pengelolaannya kurang optimal.

"Proses oksidasi berpotensi menghasilkan peroksida, asam organik, dan gum yang dapat menurunkan kualitas bahan bakar. Di sisi lain, kandungan air dapat memicu hidrolisis, korosi, serta pertumbuhan mikroorganisme yang risikonya semakin meningkat pada campuran tinggi seperti B30 hingga B50 apabila pengelolaannya kurang optimal," katanya.

Dr Leopold menegaskan, kondisi tersebut bukan berarti pemilik kendaraan harus memberikan perlakuan khusus pada mesin. Justru, yang perlu menjadi perhatian adalah menjaga kualitas biodiesel sejak proses produksi, penyimpanan, distribusi, hingga pencampuran sebelum digunakan.

Dia menambahkan, hasil pengujian yang menunjukkan performa mesin tetap baik umumnya menggunakan biodiesel yang masih segar. Karena itu, kondisi penyimpanan dan distribusi dalam jangka panjang masih perlu terus dievaluasi.

Menurut dia, implementasi biodiesel B50 harus dibarengi pengujian jangka panjang dan pemantauan berkala untuk memastikan kualitas bahan bakar tetap terjaga serta tidak memengaruhi keandalan mesin kendaraan.

Selain itu, keterlibatan pemerintah, produsen bahan bakar, industri otomotif, akademisi, hingga masyarakat juga dibutuhkan agar implementasi B50 berjalan optimal.

"Biodiesel perlu dipandang sebagai teknologi transisi menuju sistem transportasi yang lebih rendah emisi. Ke depan, perannya akan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi, kebijakan energi, dan elektrifikasi transportasi hingga tercapai keseimbangan baru menuju target NZE (net zero emission) pada 2050–2060," ujar Dr Leopold.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut