Pasar Mobil Seret, Industri Otomotif Tahan Napas Tunggu Kepastian Insentif
Awalnya, Gaikindo membidik penjualan di kisaran 850 ribu hingga 900 ribu unit. Namun melihat kondisi pasar lemah, target tersebut diturunkan menjadi sekitar 780 ribu unit kendaraan roda empat sepanjang 2025.
Memasuki 2026, tantangan diprediksi kian berat. Belum adanya kepastian soal insentif membuat pelaku industri memilih bersikap hati-hati sambil menunggu arah kebijakan pemerintah.
Sinyal perlunya dukungan pemerintah juga disampaikan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. Menurutnya, penurunan penjualan menjadi indikasi kuat bahwa industri otomotif membutuhkan perhatian khusus.
Dia menekankan sektor otomotif memiliki peran strategis, mulai dari penyerapan tenaga kerja, kontribusi terhadap perekonomian, hingga keterkaitan erat dengan rantai pasok industri nasional.
“Kemenperin akan terus memberikan perhatian khusus kepada sektor otomotif. Sektor ini terlalu penting untuk kita abaikan. Tidak mungkin kita abaikan,” ujar Agus Gumiwang, baru-baru ini.
Atas kondisi tersebut, industri otomotif kini menunggu langkah konkret pemerintah, berharap kebijakan 2026 mampu menggerakkan kembali pasar dan menjaga roda industri tetap berputar.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto memastikan insentif mobil listrik tidak diperpanjang pada 2026, dengan alasan program awal sudah berhasil menarik investasi pabrikan, dan anggaran akan dialihkan untuk pengembangan mobil nasional agar industri otomotif dalam negeri lebih mandiri.
Penghentian ini juga berpotensi menaikkan harga mobil listrik karena hilangnya diskon pajak dan insentif impor, serta membuka peluang bagi kendaraan hybrid.
Editor: Dani M Dahwilani