Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kekeringan Ekstrem Melanda Pati, Sungai Silugonggo Kering Total, Jutaan Ikan Mati Berserakan
Advertisement . Scroll to see content

10 Ton Ikan Mati di Waduk Cirata Cianjur, Ternyata Ini Penyebabnya

Rabu, 09 September 2026 - 21:38:00 WIB
10 Ton Ikan Mati di Waduk Cirata Cianjur, Ternyata Ini Penyebabnya
Kematian massal ikan terjadi di keramba jaring apung Blok Salam, Waduk Cirata Jangari, Kabupaten Cianjur, setelah fenomena upwelling. (Foto: iNews Cianjur).
Advertisement . Scroll to see content

CIANJUR, iNews.id - Puluhan pembudidaya ikan di kawasan Waduk Cirata Jangari, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat mengalami kerugian setelah sekitar 10 ton ikan di keramba jaring apung Blok Salam mati secara massal. Kerugian sementara ditaksir mencapai Rp250 juta dan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah.

Kematian ikan diduga berkaitan dengan fenomena upwelling yang terjadi setelah perubahan cuaca ekstrem dan angin kencang. Kondisi tersebut menyebabkan massa air dari lapisan bawah naik ke permukaan dan memengaruhi lingkungan perairan tempat ikan dibudidayakan.

Muhyi (37), salah seorang pemilik keramba jaring apung di Blok Salam, membenarkan banyak ikan mati di kawasan tersebut. Menurutnya, ikan yang mati mencapai sekitar 10 ton, termasuk miliknya.

"Iya, banyak yang mati di Blok Salam, kurang lebih 10 ton termasuk di kolam saya," kata Muhyi dikutip dari iNews Cianjur, Rabu (9/9/2026).

Besarnya kerugian tersebut belum menggambarkan dampak di seluruh perairan Waduk Cirata Jangari. Sebab, pendataan baru dilakukan terhadap ikan yang mati di Blok Salam.

Jika kematian serupa terjadi di blok lain, total ikan yang mati dan kerugian pembudidaya diperkirakan dapat meningkat. Hingga kini, belum ada data keseluruhan mengenai dampak kematian ikan di kawasan tersebut.

Bagi pembudidaya di Waduk Cirata, upwelling bukan fenomena yang asing. Muhyi menyebut kondisi tersebut hampir selalu muncul pada Agustus dan September.

"Setiap tahun di bulan delapan dan sembilan pasti terjadi upwelling," ujarnya.

Fenomena upwelling terjadi ketika massa air dari lapisan bawah bergerak ke permukaan. Perubahan kondisi perairan yang berlangsung cepat dapat membuat ikan di dalam keramba mengalami gangguan hingga mati dalam jumlah besar.

Perubahan cuaca ekstrem dan angin kencang kali ini diduga menjadi pemicu pergerakan massa air tersebut. Namun, dampak yang terjadi di blok-blok lain masih belum diketahui.

Muhyi memperkirakan jumlah ikan mati masih dapat bertambah karena laporan yang sudah diketahui baru berasal dari Blok Salam.

"Menurut dia, itu baru di Blok Salam saja. Untuk blok lain di perairan Waduk Cirata Jangari saya tidak tahu, kemungkinan banyak ikan mati juga," katanya.

Pembudidaya berharap pemerintah melakukan pendataan di seluruh kawasan Waduk Cirata Jangari. Data tersebut diperlukan untuk mengetahui total kerugian sekaligus menentukan langkah antisipasi terhadap fenomena upwelling yang berulang setiap tahun.

Hingga Rabu (9/9/2026), belum ada angka pasti mengenai total ikan yang mati dan kerugian pembudidaya di seluruh kawasan. Untuk sementara, sekitar 10 ton ikan di Blok Salam tercatat mati dengan estimasi kerugian mencapai Rp250 juta.

Editor: Kurnia Illahi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut