BMKG Pastikan Erupsi Tangkuban Parahu Tidak Memicu Aktivitas Sesar Lembang
Menurut Daryono, erupsi freatik adalah fenomena lokal, sementara jarak antara Gunung Tangkuban Parahu dengan Sesar Lembang sejauh 6,96 km, sehingga erupsi ini tidak akan mempengaruhi kondisi tektonik Sesar Lembang.
“Kami mengimbau agar masyarakat Subang, Lembang, Bandung, dan sekitarnya tidak perlu cemas dan takut. Terkait Sesar Lembang, BMKG akan terus memonitor aktivitas seismiknya selama 24 jam selama 7 hari secara terus menerus. Selanjutnya BMKG akan segera menginformasikan kepada masyarakat jika ada peningkatan aktivitas kegempaan Sesar Lembang,” paparnya.
Belajar dari beberapa peristiwa gempa tektonik destruktif akibat sesar aktif, kata dia, biasanya aktivitas sesar didahului gempa-gempa mikro sebagai gempa pendahuluan (foreshocks). Gempa Yogyakarta 2006 (Magnitudo 6,4), Gempa Lombok 2018 (M 7,0), Gempa Palu 2018 (M 75) dan Gempa Halmahera Selatan (M 7,2) semua dipicu sesar aktif dan didahului aktivitas gempa pendahulan.
Dia menambahkan, untuk mewaspadai dan mengantisipasi aktivitas Sesar Lembang, BMKG saat ini memonitor dengan sangat ketat kemunculan gempa mikro di sepanjang jalur sesar.
Untuk meningkatkan akurasi monitoring aktivitas sesar aktif di Provinsi Jawa Barat, BMKG pada tahun 2019 ini akan merapatkan jaringan sensor gempa dengan memasang 22 sensor seismik baru.
BMKG menjadikan Sesar Lembang sebagai salah satu prioritas monitoring aktivitas seismik di Indonesia karena potensinya cukup signifikan dan berdekatan dengan kota besar dengan permukiman padat.
“Apakah dengan tempat tinggal kita dekat sesar aktif lantas kita selalu cemas dan takut? Tidak perlu, informasi potensi gempa harus direspon dengan langkah nyata dengan memperkuat mitigasi. Utamanya mitigasi struktural yaitu membangun bangunan dengan struktur yang tahan gempa bumi,” ujar Daryono.
Editor: Kastolani Marzuki