Fase Erupsi Menerus Anak Krakatau Berakhir, Aktivitas Kembali ke Fase Strombolian
BANDUNG, iNews.id - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan fase erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda telah berakhir. Aktivitas vulkanik gunung api tersebut kini kembali memasuki fase erupsi strombolian dengan letusan berdurasi singkat.
Data Badan Geologi menyebutkan, fase erupsi menerus yang sebelumnya berlangsung telah mereda pada Jumat dini hari pukul 00.04 WIB. Perubahan aktivitas tersebut ditandai dengan penurunan getaran vulkanik yang terekam secara konsisten berdasarkan pemantauan data seismik.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria menyampaikan, saat ini, karakter erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan pola strombolian. Pada 8 September, tercatat delapan kali letusan kecil dengan durasi sekitar 10 hingga 15 detik.
"Fase erupsi menerus yang terjadi di 4 September ini sudah berhenti di 6 September tepatnya di pukul 00.04 WIB. Sekarang sudah kembali kepada fase sesuai dengan karakter Gunung Anak Krakatau, yaitu fase Strombolian di mana fase ini terjadi erupsi di dalam amplitudo yang tidak terlalu panjang dan juga dalam durasi waktu hanya beberapa detik dan ini terjadi di 8 September ini," ujar Lana, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, seiring meredanya aktivitas, sebaran abu vulkanik juga tidak lagi meluas. Abu saat ini terkonsentrasi di sekitar lereng dan tubuh kawah Gunung Anak Krakatau.
Dia mengatakan, kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan situasi menjelang peristiwa tsunami pada Desember 2018.
Berdasarkan analisis data deformasi, tidak ditemukan adanya pergeseran dinding kawah yang berpotensi memicu longsoran. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa potensi tsunami akibat longsoran tubuh gunung tidak menunjukkan ancaman seperti pada 2018.
Dia mengungkapkan, pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga tidak mencatat adanya anomali muka air laut di sepanjang Selat Sunda.
"Berdasarkan data BMKG di periode 4-6 September tidak ada anomali terhadap muka laut yang menandakan, tidak adanya potensi tsunami," ucapnya.
Membaiknya kondisi atmosfer di sekitar Gunung Anak Krakatau turut memberikan dampak terhadap aktivitas penerbangan. Seluruh NOTAM keselamatan penerbangan saat ini berada dalam status hijau dan biru.
Kementerian Perhubungan kemudian membuka kembali operasional sejumlah bandara yang sebelumnya sempat ditutup akibat dampak aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Meski aktivitas erupsi mulai melandai, Badan Geologi belum menurunkan status Gunung Anak Krakatau. Gunung tersebut masih berada pada Level III atau Siaga.
Masyarakat dan wisatawan tetap dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Pembatasan ini diberlakukan sebagai langkah mitigasi mengingat aktivitas vulkanik masih berlangsung.
Editor: Kurnia Illahi