Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Geothermal World Cup 2026 Pecah! 16 Tim Ramaikan Panggung Persatuan Industri Panas Bumi Indonesia
Advertisement . Scroll to see content

Hari Tani Nasional, Dari Energi Terbarukan, Tumbuh Pangan dan Kemandirian Petani

Kamis, 24 September 2026 - 17:11:00 WIB
Hari Tani Nasional, Dari Energi Terbarukan, Tumbuh Pangan dan Kemandirian Petani
Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang, Bandung, berhasil panen kubis. (Foto: ist)
Advertisement . Scroll to see content

BANDUNG, iNews.id – Dari lereng pegunungan Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, panas bumi tak hanya dimanfaatkan sebagai sumber energi. Bagi para petani, energi terbarukan tersebut kini ikut membantu mengolah limbah menjadi pupuk, merawat tanah, hingga menghasilkan pangan.

Gagasan itu lahir dari tantangan yang sehari-hari dihadapi petani. Udara yang sejuk dengan curah hujan dan kelembapan tinggi membuat proses pengeringan pupuk organik secara konvensional membutuhkan waktu hingga 14 hari. Di sisi lain, keterbatasan pupuk bersubsidi dan tingginya harga pupuk kimia menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan usaha tani.

Kondisi tersebut mendorong Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang, bagian dari Pertamina, mengembangkan GeO-Fert, pupuk organik yang proses pengeringannya memanfaatkan excess steam panas bumi melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah.

Dengan memanfaatkan panas bumi bersuhu sekitar 60–70°C, proses pengeringan pupuk yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga 14 hari dapat dipangkas menjadi sekitar 12 jam.

Hingga 2026, inovasi tersebut telah memanfaatkan sekitar 600 ton limbah organik untuk menghasilkan 300 ton pupuk GeO-Fert. Pupuk tersebut telah diaplikasikan pada sekitar 15 hektare lahan dan memberikan manfaat kepada sekitar 950 petani.

Namun, bagi petani Kamojang, keberhasilan GeO-Fert bukan sekadar seberapa banyak pupuk yang berhasil diproduksi. Ukuran keberhasilannya justru terlihat ketika pupuk kembali ke tanah dan menghasilkan tanaman yang dapat dipanen.

Hal itu terlihat dalam kegiatan HAREPAN – Panen Hasil Bumi dengan Pupuk GeO-Fert. Dari lahan yang memanfaatkan pupuk tersebut, petani berhasil memanen sekitar 15 ton kentang dan 40 ton kol, sekaligus menghasilkan penghematan biaya hingga sekitar Rp82 juta.

“Bagi kami, yang paling penting bukan hanya bisa membuat pupuk sendiri, tetapi bagaimana pupuk ini kembali ke tanah dan menghasilkan panen. Dari sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah, sekarang bisa memberikan manfaat untuk pertanian dan petani,” ujar Hendro Gunawan, Local Hero KTH Cikondang.

Dari Energi Terbarukan Dorong Sektor Pangan

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk kembali melihat pentingnya peran petani sekaligus mendorong inovasi yang dapat memperkuat produktivitas dan kemandirian mereka.

“Petani adalah bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan. Melalui Desa Energi Berdikari, Pertamina berupaya menghadirkan energi terbarukan agar semakin dekat dengan kebutuhan produktif masyarakat. Di Kamojang, panas bumi ikut membantu petani mengolah limbah menjadi pupuk, merawat lahan hingga menghasilkan pangan,” ujar Baron.

Menurutnya, kisah GeO-Fert menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan dapat memberikan manfaat yang lebih luas ketika terhubung dengan kebutuhan masyarakat.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut