Peninggalan Kerajaan Pajajaran, Ada Jalan Tol Penghubung Timur dan Barat
Mahkota ini dibawa ke Sumedang Larang dan diserahkan kepada Raja sumedang larang, Prabu Geusan Ulun dengan harapan dapat menggantikan dan melanjutkan keberadaan dan kejayaan kerajaan Sunda.
Sejak saat itu mahkota ini menjadi benda pusaka Sumedang Larang. Sejak pemerintahan Bupati Pangeran Suria Kusumah Adinata atau Pangeran Sugih (1937-1946) mahkota tersebut dipakai untuk hiasan kepala pengantin keluarga trah leluhur Sumedang. Mahkota Binokasih dan siger emas menjadi daya tarik pengunjung yang datang ke Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang.
Peninggalan Kerjaan Pajajaran ini sering disebut dengan nama Prasasti Citasih. Peinggalan ini merupakan, tanda terima kasih raja kepada pasukan Kerajaan Pajajaran karena telah memenangkan perang melawan pasukan Swarna-Bhumi. Prasasti ini diketahui sudah ada sejak 1.030 Masehi dan dibuat atas perintah Maharaja Jayabhupati.
Peninggalan Kerajaan Pajajaran lainya sering disebut dengan nama Prasasti Astanagede ini berasal dari daerah Ciamis, Jawa Barat. Isi yang terdapat di dalam prasasti ini tentang dipindahkannya pusat kerajaan dari Pakuan Pajajaran ke Kawali. Diperkirakan dibuat pada abad ke-14 dan dijadikan tugu peringatan untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana.
Ditemukan di Bogor, sudah ada sejak 923 Masehi. Prasasti ini ditulis menggunakan bahasa Jawa Kuno dan Melayu dan menceritakan tentang pengembalian kekuasaan raja Kerajaan Pajajaran.