Seniman Harus Kuasai Teknologi Digital dan Medsos agar Tetap Berkarya di Masa Pandemi
Namun, menyerah bukan solusi. Sebaliknya, manajemen SAU berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi dan tuntutan zaman. Salah satunya, SAU mulai beralih menggarap pertunjukan virtual, hal yang sebelumnya tak familiar.
Mereka belajar kepada ahlinya dan berusaha menyesuaikan dengan kondisi yang ada agar bisa tetap hidup. Berkaca dari hal itu, Sam Udjo menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mendukung para seniman dan budayawan. Selain itu, kolaborasi jadi langkah penting lain yang perlu dijalankan.
"Titik kuncinya adalah kolaborasi. Ini harus disepakati dulu supaya kita itu bisa saling bersinergi, tidak overlaping. Misalnya dari kami mampunya di angklung, komunitas lain di bidang lain, bisa saja kita kolaborasi untuk sama-sama berkontribusi dalam penampilan virtual," kata Sam Udjo.
Sementara itu, untuk membekali para peserta terkait visal di media digital, perwakilan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bandung Septianjar Muharam dan Ketua IJTI Jabar Iqwan Sabba memaparkan teknis pengambilan foto dan video.
"Dengan pengambilan foto dan video yang tepat, karya yang dihasilkan seniman dan budayawan bisa disebarluaskan dan menjadi pertunjukan menarik," kata Septianjar dan Iqwan.
Sedangkan pegiat media sosial Wisma Putra menjelaskan seputar pentingnya pengelolaan media sosial agar produk seni dan budaya bisa efektif disampaikan kepada publik.
Beragam tips diberikan, mulai dari cara promosi, pembuatan judul dan narasi, hingga pentingnya mengitung waktu untuk mengunggah produk atau karya di media sosial.
Editor: Agus Warsudi