Kisah Heroik Perlawanan Pemuda Semarang Lawan Tentara Jepang dalam Pertempuran 5 Hari
Setelah mereka pulang ke markas pengendali yang merupakan Markas Angkatan Muda di Jalan Pemuda 88/89 Semarang dan membongkarnya, mereka sadar bahwa senjata yang diserahkan memang rusak semua.
Pemuda pun marah dan dengan bekal senjata rusak dan aneka alat bela diri pun menyebar ke seluruh wilayah kota. mereka bergerak membabi buta mencari warga Jepang. Begitu menemuinya di jalan-jalan, warga Jepang banyak mendapat siksaan pentungan, ditelanjangi dan diminta jalan kaki dengan celana kolor, hingga ada yang dibunuh dan diculik.
14 Oktober siang hingga sore kondisi sudah terasa mencekam akibat ngamuknya pemuda. Mendapati keadaan tersebut Mayor Kido pada Minggu (14/10/1945) memerintahkan pasukan turun ke Semarang dari beberapa jalur yang menghubungkan dari arah selatan. Banyak peristiwa pertempuran di hari minggu malam tersebut.
Dengan senjata dan amunisi seadanya, pemuda Semarang melawan Jepang. Peristiwa penting yang terjadi kala itu adalah gugurnya dr Kariyadi yang merupakan kepala Laboratorium RS Purusara (sekarang RSUP Kariyadi). Dokter Kariyadi gugur ditembak Jepang di sekitar Jalan Pandanaran, lepas Magrib saat hendak memeriksa tandon air minum Wungkal yang dikabarkan telah diracun Jepang.
Sejak saat itulah pertempuran heroik berkecamuk. Beberapa tokoh penting yang memiliki peranan menggalang pemuda dan rakyat untuk bertempur antara lain Budancho Moenadi.