Dia juga menyentil para caleg lainnya untuk tidak berupaya mendapat suara rakyat untuk bisa duduk di kursi Senayan dengan memanfaatkan politik semacam ini.
"Jangan sampai proses pemilihan wakil rakyat sebatas transaksional jual beli suara. Setelah memberi amplop (merasa) tidak ada lagi rasa tanggung jawab pada masyarakat yang memilihnya," ujar caleg yang berprofesi sebagai seorang pengacara tersebut.
Menurutnya, caleg yang melakukan politik uang saat kampanye tidak akan kembali pada masyarakat saat telah terpilih. Mereka akan sibuk ‘mencari’ dana untuk mengembalikan uang yang sudah dikeluarkan selama masa kampanye, dengan berusaha merampok uang negara.
"Saya tegas dalam hal ini. Saya tidak mau main amplop. Kalau ada konstituen yang mengharap amplop dari saya, berarti dia salah orang. Lebih baik menghabiskan uang untuk sosialisasi dari pada beli suara. Saya ingin merevolusi 2019 ini dengan pemilu tanpa amplop,” tuturnya.
Editor: Donald Karouw