Kisah Kolonel CPM Moh Sawi, Santri Kiai As’ad yang Jadi Dan Pomdam Brawijaya
Mantan Komandan Denpom Malang, Denpom Mojokerto, dan Denpom Madiun ini kemudian dikenal sebagai komandan yang akrab dengan anggota, namun tidak pernah berkompromi dengan pelanggaran yang dilakukan prajurit.
Kolonel Sawi mengatakan, jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada atasan, melainkan kepada Allah. Maka setiap diberi tanggung jawab memegang jabatan tertentu, Sawi selalu berusaha untuk "membesarkan jabatan" itu, bukan justru "membesarkan diri" dengan jabatan.
"Saya selalu bekerja dari titik nol. Ini berkaitan dengan tulus ikhlas. Ini lagi-lagi bicara mengenai perintah Tuhan. Jadi selalu saya sandarkan pada Allah, ini maksud saya titik nol," katanya.
Kolonel Sawi mengemukakan bahwa perjalanan hidup dan kariernya di militer selama ini tidak lepas dari berkah dan nilai-nilai spiritual yang ia pegang dari gurunya, yakni KHR As'ad Syamsul Arifin, seorang tokoh NU yang juga bergelar pahlawan nasional.
Nilai-nilai yang dijalani dan selama hidup disampaikan oleh Kiai As'ad, satu-satunya mediator berdirinya NU antara Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari dengan ulama besar dari Bangkalan Syaikhona Kholil ini, selalu menjadi energi bagi perjalanan hidup dan kedinasan bagi Kolonel Sawi.