Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Identitas Pedagang Cilok Ditemukan Tewas di Kontrakan Cikupa, Perantau asal Madura
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Pesarean Batu Ampar, Jejak Penyebaran Islam di Pulau Madura

Senin, 03 April 2023 - 11:47:00 WIB
Kisah Pesarean Batu Ampar, Jejak Penyebaran Islam di Pulau Madura
Gubernur Khofifah saat berzirah di kompleks makam Batu Ampar, Pamekasan, Madura. (istimewa).
Advertisement . Scroll to see content

SURABAYA, iNews.id - Madura tidak hanya dikenal sebagai pulau garam. Pulau dengan luas 5.379 kilometer per segi itu kaya akan sejarah, terutama penyebaran agama Islam

Di Kabupaten Pamekasan misalnya, terdapat Pesarean Batu Ampar. Lokasi makam ini berada di Desa Pangbatok, Kecamatan Proppo. Tepatnya di wilayah yang jaraknya 15 kilometer dari pusat Kota Pamekasan atau sekitar setengah jam perjalanan darat dengan kendaraan dari pusat kota. 

Nama Batu Ampar ini berasal dari Bahasa Madura yaitu “Bato” yang berarti batu dan “Ampar” yang berarti berserakan namun teratur seperti halnya permadani yang dihamparkan. 

Di kompleks makam ini terdapat enam makam aulia atau wali Allah yang dalam bahasa Madura disebut Bujuk. Mereka yakni makam Syekh Abdul Manan (Bujuk Kosambi), Syekh Basyaniyah (Bujuk Tumpeng), Syekh Abu Syamsudin (Bujuk Lattong), Syekh Husen, Syekh Moh Romli dan Syekh Damanhuri.

Syekh Abdul Manan (Bujuk Kosambi) salah satu ulama yang dimakamkan di Pesarean Batu Ampar ini adalah putra dari Sayyid Husein, seorang ulama Bangkalan. Diceritakan, Syekh Abdul Manan ini mengasingkan diri atau uzlah di bawah pohon Kosambi di hutan daerah Batu Ampar untuk mendekatkan diri kepada Allah usai Syeikh Husen wafat terbunuh akibat kesalahpahaman dengan Raja Bangkalan kala itu.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut