Lukisan Pertemuan Bung Karno dengan Marhaen, Eri: Pemikiran Beliau Harus Dibumikan
Menurut Eri, Bung Karno merupakan sosok pemimpin yang jiwanya dipenuhi keikhlasan. Tak ada satu pun motif pemikiran dan perjuangan Bung Karno kecuali hanya untuk membebaskan rakyat kecil dari penderitaan akibat penjajahan. "Jiwanya beliau yang tulus ikhlas itu semoga selalu menurun kepada jiwa warga Surabaya," ujarnya.
Selain itu, dia memastikan lukisan yang menggambarkan pertemuan Bung Karno dan Marhaen tersebut membawa imajinasinnya hingga puluhan tahun silam. Dia membayangkan, Bung Karno ketika itu bersepeda keliling desa hingga bertemu Marhaen. Di tengah terik matahari, di tengah sawah, terjadilah dialog di antara keduanya, yang menjadi inspirasi bagi Bung Karno untuk memberi nama Marhaenisme pada pemikiran politiknya.
"Pemikiran Bung Karno harus dibumikan di Surabaya," katanya.
Yacobus Mayong Padang mengatakan, sejarah Indonesia terurai sangat panjang. Kemerdekaan diperingati setiap 17 Agustus 1945. Namun, ada satu momen yang sangat penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan, yaitu momen ketika Bung Karno bertemu Marhaen (Mang Aen) di tengah sawah di Cigereleng, Bandung, pada 1923.
"Dialog dengan Pak Marhaen itulah yang menyadarkan Bung Karno sebagai kaum terpelajar. Betapa menderitanya rakyat ketika itu. Saat itu juga, Bung Karno bertekad bahwa Indonesia harus merdeka untuk membebaskan rakyat yang menderita," katanya.
Editor: Ihya Ulumuddin