Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Arkeolog Temukan Situs Majapahit di Bawah Jalan Desa Mojokerto, Begini Wujudnya
Advertisement . Scroll to see content

Mengenal Pararaton, Kitab yang Mengisahkan Perjalanan Raja Singasari dan Majapahit

Selasa, 06 Agustus 2024 - 07:01:00 WIB
Mengenal Pararaton, Kitab yang Mengisahkan Perjalanan Raja Singasari dan Majapahit
Ilustrasi peninggalan Kerajaan Singasari (Screenshot Kemdikbud)
Advertisement . Scroll to see content

Tokoh bernama Ken Arok merupakan cikal bakal Dinasti Rājasa yang mendapat porsi paling banyak dalam naskah ini dibanding para raja lainnya. Kisah kehidupan Ken Arok yang tertulis pada bagian awal Pararaton, banyak dibumbui mitos dan peristiwa ajaib yang terkesan tak nyata.

Misalnya, dia diceritakan mampu terbang menggunakan sepasang daun siwalan sebagai sayap, serta dari ubun-ubun kepalanya pernah keluar kawanan kelelawar yang menyerbu tanaman jambu milik gurunya. Namun, Pararaton juga mengisahkan peristiwa sejarah, yaitu Ken Arok menaklukkan Negeri Daha pada Šaka 1144 (1222 Masehi). Angka tahun ini ternyata cocok dengan yang tertulis dalam naskah Nagarakṛtāgama.

Berbeda dengan Nāgarakṛtāgama yang menyebut penulisnya dengan nama samaran Prapañca, sampai saat ini belum ada informasi siapakah pujangga yang pertama kali menyusun Pararaton. Sebenarnya ini tidaklah aneh karena pada umumnya naskah sastra berbahasa Jawa Pertengahan bersifat anonim, sebagai contoh, Kidung Harşawijaya, Kidung Rangga Lawe, Kidung Sorandaka, Kidung Sunda, dan Kidung Suņdāyana, semuanya anonim, tidak mencantumkan nama penulisnya.

Mengenai tahun pembuatannya, Pararaton yang diterbitkan JLA Brandes (1897) menyebutkan, naskah ditulis pada Śaka 1535 (1613 Masehi), sedangkan yang diterbitkan Agung Kriswanto (2009) menyebutkan naskah ditulis pada Šaka 1522 (1600 Masehi). 

Oleh karena ada dua versi angka tahun, dapat disimpulkan dua-duanya tahun penyalinan, bukan tahun penyusunan. Tapi kedua versi Pararaton yang bertahun Śaka 1535 maupun yang bertahun Śaka 1522 sama-sama ditutup dengan peristiwa gunung meletus pada wuku Watugunung tahun Śaka 1403 (1481 Masehi).

Peristiwa ini berselang 3 tahun setelah kematian seorang raja di istana Majapahit pada Śaka 1400 (1478 Masehi). Raja yang meninggal itu bukanlah raja terakhir Dinasti Rājasa karena masih ada Śrī Girīndrawardhana Dyah Ranawijaya yang namanya tertulis dalam Prasasti Pēțak bertahun Śaka 1408 (1486 Mase- hi). Anehnya, nama raja ini tidak disebutkan dalam Pararaton.

Dengan demikian, dapat diperkirakan Pararaton disusun sesudah tahun 1481 dan sebelum tahun 1486. Kemungkinan kedua, penulis Pararaton sengaja tidak mengisahkan Śrī Girīndrawardhana Dyah Ranawijaya, karena saat itu pusat pemerintahan Dinasti Rājasa sudah pindah ke Keling, tidak lagi di Majapahit.

Editor: Donald Karouw

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut