Kabut Asap Selimuti Maluku, Angogota DPRD Welhelm Kurnala Minta Penanganan Karhutla Terpadu
MALUKU, iNews.id - Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah di Maluku. Kondisi ini menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas sehari-hari, mulai dari transportasi hingga kegiatan belajar mengajar.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 7 Oktober 2026 melaporkan adanya asap tipis hingga sedang di wilayah Maluku. Jarak pandang dilaporkan berkisar 5–9 kilometer.
Menyikapi kondisi tersebut, Ketua DPW Partai Perindo Maluku sekaligus anggota DPRD provinsi, Welhelm Daniel Kurnala, mendesak pemerintah memperkuat penanganan karhutla. Dia menilai upaya pengendalian kebakaran perlu disertai langkah untuk mengurangi dampak asap terhadap masyarakat.
“Penanganan karhutla perlu dilakukan secara serius dan terkoordinasi. Kita tidak hanya perlu memadamkan api, tetapi juga memastikan dampak asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat dapat dikendalikan,” kata Welhelm dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).
Menurut dia, penanganan karhutla membutuhkan koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah. Pemantauan kondisi asap serta penyampaian informasi yang akurat kepada masyarakat juga dinilai penting agar warga dapat mengambil langkah perlindungan.
“Pemerintah pusat dan daerah perlu memperkuat kerja sama, baik dalam pemadaman maupun pemantauan dampak asap. Informasi yang akurat dan langkah yang cepat sangat penting agar masyarakat mengetahui kondisi yang dihadapi dan dapat mengambil langkah perlindungan,” ujarnya.
Welhelm juga meminta pemerintah mempertimbangkan langkah penanganan tambahan, termasuk operasi modifikasi cuaca di wilayah terdampak kebakaran. Dia berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk mengatasi persoalan yang berulang tersebut.
"Saya berharap langkah nyata penanganan karhutla di Maluku, sudah terlalu lama masyarakat maluku menunggu solusi dan peran serta pemerintah. Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca di lokasi kebakaran sekarang juga,” tutur Welhelm.
Dampak asap juga dirasakan sektor pendidikan. Sejumlah satuan pendidikan di Kecamatan Bula Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur, dilaporkan mengubah jadwal belajar dari pagi menjadi siang untuk menyesuaikan kondisi pada pagi hari yang masih diselimuti asap.
Welhelm menegaskan, penanganan karhutla perlu dilakukan secara berkelanjutan agar risiko kebakaran dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat dapat ditekan.
“Karhutla merupakan persoalan yang membutuhkan kerja bersama. Kami berharap upaya pemerintah terus diperkuat agar risiko kebakaran dapat ditekan, masyarakat terlindungi, dan aktivitas ekonomi maupun pelayanan publik dapat berjalan dengan baik,” katanya.
Editor: Kurnia Illahi