Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Polisi Pertebal Keamanan usai Insiden 3 ASN Ditembak Mati KKB di Jayawijaya
Advertisement . Scroll to see content

Jubir OPM Sebby Sambom Klaim Tembak 3 ASN Jayawijaya: Siapa Suruh ke Papua!

Sabtu, 12 September 2026 - 18:37:00 WIB
Jubir OPM Sebby Sambom Klaim Tembak 3 ASN Jayawijaya: Siapa Suruh ke Papua!
Jubir OPM Sebby Sambom menyatakan KKB bertanggungjawab atas penembakan tiga ASN Dinas Pertanian Jayawijaya. (Foto: Ist)
Advertisement . Scroll to see content

WAMENA, iNews.id - Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat dan Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom mengeluarkan pernyataan setelah penembakan tiga aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Sebby mengklaim pihaknya melarang warga pendatang memasuki wilayah yang disebut sebagai zona konflik bersenjata, termasuk Wamena.

Sebby juga menyebut warga sipil yang memasuki wilayah konflik akan diminta meninggalkan lokasi, terlepas dari alasan kedatangannya.

"Wilayah Konflik bersenjata di seluruh tanah Papua, orang imigran tidak diperbolehkan masuk di wilayah perang konflik bersenjata," kata Sebby dikutip Sabtu (12/9/2026)..

Sebby kemudian menegaskan larangan tersebut berlaku bagi warga pendatang yang datang ke Papua dengan berbagai alasan, termasuk untuk menjalankan pelayanan kesehatan, pendidikan, gereja, maupun kegiatan pertanian.

"Dengan demikian kami tegaskan sekali lagi, bahwa wilayah perang ini orang Indonesia tidak diizinkan masuk. Anda-anda mengklaim itu pelayanan gereja kah, pelayanan kesehatan kah, pendidikan kah, pertanian kah, segala macam, tidak masuk. Ini karena kemarin tiga orang ditembak mati," ujarnya.

Sebby juga menyinggung laporan internal kelompoknya terkait penembakan tiga orang tersebut. Dia mengklaim ketiga korban sempat berusaha melarikan diri ketika diperiksa oleh kelompok bersenjata.

"Laporan TPNPP oleh Kodam Ndugama sangat jelas. Mereka sampaikan bahwa tiga orang itu, mereka melarikan diri. Jadi kita tembak, yang lain tidak tembak karena mereka bersedia diperiksa," katanya.

Sebby juga mengklaim kelompoknya telah menerima laporan mengenai salah satu perempuan yang dicurigai sebelum kejadian penembakan. Dia menuding perempuan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas intelijen dari Jakarta.

"Dan kami juga sudah terima laporan sebelumnya bahwa ada perempuan ini dicurigai. Kami sudah terima laporan jauh-jauh sebelumnya. Mereka bilang ada satu agen intelijen yang dikirim dari Jakarta," ujarnya.

Dia menyebut orang asli Papua maupun pendatang yang dianggap membantu aparat sebagai pihak yang akan ditindak.

Sebby mengklaim kelompoknya telah menjalankan apa yang disebutnya sebagai fungsi perang dan hukum humaniter dengan memberikan peringatan kepada warga sipil agar meninggalkan wilayah konflik.

Dia juga mempertanyakan alasan warga dari luar Papua datang dan bekerja di wilayah tersebut. Sebby menyatakan pekerjaan di bidang kesehatan, aparatur pemerintah, pendidikan, pertanian, maupun sektor lainnya seharusnya dapat diisi oleh orang asli Papua.

"Siapa suruh kamu datang di Papua? Orang-orang Indonesia ini, cari apa? Siapa suruh datang dan cari apa? Karena tenaga kesehatan, tenaga pegawai negeri, apa pun semua harus difungsikan orang asli Papua," katanya.

Sebby menilai orang asli Papua memiliki kemampuan untuk mengisi berbagai pekerjaan setelah memperoleh pendidikan. Dia juga menolak kedatangan pekerja dari sejumlah daerah di Indonesia untuk mengisi posisi di provinsi maupun kabupaten baru di Papua.

"Tidak perlu lagi orang-orang imigran didatangkan untuk mengisi provinsi baru, kabupaten baru, segala macam. Tidak perlu orang Indonesia," ujarnya.

"Orang Papua itu kan sudah sekolah. Orang asli Papua yang harus kerja. Bukan imigran yang datangkan dari Jawa sana, Toraja sana, Sulawesi sana, Sumatera sana. Memangnya kamu saja yang pintar kah?" ucapnya.

Pernyataan Sebby tersebut muncul setelah tiga orang yang merupakan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya tewas ditembak di Distrik Muliama, Papua Pegunungan. Ketiga korban yakni Aprida Rapi (49), Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya; drh Alfonsius Albinus Mehan (35), dokter hewan; serta Willi Mbuik (24) CPNS Kabupaten Jayawijaya.

Aprida Rapi tewas akibat luka tembak di rusuk kiri bagian depan. Sementara drh Alfonsius Albinus Mehan meninggal akibat luka tembak di kepala. Korban lainnya, Willi Mbuik, juga meninggal dunia dalam insiden tersebut.

Aparat keamanan menyebut kelompok Egianus Kogoya dari TPNPB Kodap III Ndugama Derakma diduga terlibat dalam penembakan tersebut.

Di tengah penyelidikan, Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 mengidentifikasi dua orang yang muncul dalam cuplikan video call yang beredar di media sosial. Keduanya berinisial PN dan KT serta telah masuk daftar pencarian orang (DPO) kepolisian.

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026 Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan identitas PN dan KT diketahui setelah polisi mencocokkan cuplikan video dengan data serta ciri-ciri yang dimiliki aparat.

Keduanya diduga merupakan anggota kelompok Kodap III Ndugama pimpinan Egianus Kogoya. Polisi juga mengaitkan PN dan KT dengan penembakan saat Festival Budaya Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya pada 8 Agustus 2026 yang menyebabkan dua warga sipil terluka.

Selain itu, nama keduanya disebut berkaitan dengan kasus penyanderaan pilot Susi Air, Kapten Philip Mark Mehrtens, di Kabupaten Nduga pada 7 Februari 2023. Pilot tersebut kemudian dibebaskan pada 21 September 2024.

Editor: Donald Karouw

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut