Sosok Gafur Chaliq, Penggagas dan Komandan Pertama Denjaka Si Hantu Laut
Calon anggota Denjaka juga harus siap ditempa terjangan ombak ganas Laut Banyuwangi, Jawa Timut, dalam kondisi tangan dan kaki terikat, sebagai bentuk latihan penyelamatan diri. Mereka juga menjalani pelatihan darat, salah satunya bertahan hidup hanya dengan bekal garam serta memanfaatkan sumber makanan di hutan.
Tidak hanya itu, calon anggota dituntut menguasai medan udara. Mereka dibekali materi mengenai kemampuan tempur udara seperti terjun payung. Segala bentuk latihan ini dilakukan karena anggota Denjaka harus menguasai seluruh medan tempur, termasuk darat dan udara.
Tidak heran jika kemampuan seorang anggota Denjaka disebut-sebut setara dengan 12 prajurit TNI reguler. Misi-misi Denjaka dikenal cenderung rahasia, layaknya pasukan elite TNI lainnya.
Berdasarkan peraturan Panglima TNI Nomor Perpang/77/X/2010 tentang Persetujuan dan Pengesahan Peningkatan kepangkatan dalam Jabatan di Lingkungan Korps Marinir diputuskan Komandan Denjaka berpangkat Kolonel.
Selama Denjaka berdiri, sedikitnya Komandan Denjaka atau Dandenjaka sudah berganti sebanyak 21 kali. Setelah Gafur Chaliq, Dandenjaka kedua Letnan Kolonel Marinir Djoko Pramono yang menjabat 1983-1985. Sementara Dandenjaka saat ini Kolonel (Mar) Kresno Pratowo.
Gafur Chaliq juga diketahui memiliki daftar panjang karier militer di TNI AL. Danyontaifib 1/Marinir (1982-1983) ini menjadi Danyonif 4/Marinir pada 1984 dan Danbrigif 1/Marinir (1989-1990).
Dia juga pernah menjabat Danmentar, Dansatmar Armatim, Wagub AAL, Dankormar (1992-1994), Koorsahli Kasal (1994-1994), Irjenal (1994-1996). Pada 1996, dia menjadi Tenaga Ahli Pangab Tk III Bidang Kesra dan selanjutnya menjadi Pati Mabes TNI AL dalam rangka purnatugas.
Editor: Maria Christina