Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Solar Langka di Makassar, Antrean Bus dan Truk Mengular di SPBU
Advertisement . Scroll to see content

2 Petugas KPPS di Makassar Meninggal Diduga Kelelahan, 5 Orang Dirawat

Jumat, 16 Februari 2024 - 06:16:00 WIB
2 Petugas KPPS di Makassar Meninggal Diduga Kelelahan, 5 Orang Dirawat
Orang tua korban tak kuasa menahan duka mengenang anaknya yang telah tiada akibat kelelahan usai mengantar undangan pemilih sehari sebelum pencoblosan. (MPI-Abdoellah Nicolha)
Advertisement . Scroll to see content

MAKASSAR, iNews.id - Kabar duka kembali datang dari petugas Pemilu 2024. Kali ini, dua petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) meninggal dunia.

Ketua KPU Makassar Hambaleie mengatakan, keduanya merupakan petugas KPPS di Kecamatan Manggala dan Rappocini.

“Yang meninggal sudah dua orang,” ujar Hambaliie, Kamis (15/2/2024).

Pertama yakni Wilyam Sandi Pailongang (24), petugas TPS 07 Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Makassar. Satunya lagi Dahlia (24), petugas salah satu TPS di Minasaupa, Kecamatan Rappocini.

Hambaliie mengatakan, Wilyam meninggal sehari sebelum pencoblosan.

"Jadi malam pencoblosan dia sudah di rumah sakit. Mungkin karena keletihan mengantar undangan," katanya.

Sementara, Dahlia juga dalam kondisi yang sama.

"Keduanya meninggal karena kelelahan, kalau Ibu Dahlia belum perhitungan suara sudah sakit," ucapnya.

Selain yang meninggal, juga terdapat petugas KPPS yang sakit dan dirawat.

"Total sakit kurang lebih lima orang. Saya belum dapat detailnya. Ada rawat inap, ada rawar jalan," ujarnya.

Terkait santunan bagi KPPS yang meninggal dunia, pihaknya akan membicarakannya bersama dengan BPJS Ketenagakerjaan.

"Seluruh KPPS itu dicovering BPJS Ketenagakerjaan," katanya.

Sementara itu, ayah Wilyam Sandi Pailongang, Seftandi menyebutkan, anaknya sebelum meninggal sempat mengantarkan undangan pemilih.

"Setelah dia mengedarkan undangan, sudah merasakan kecapean, drop. Dia tidak sempat ke KPPS karena kecapean. Tidak sempat bertugas. Hanya bagikan undangan," ucapnya kepada wartawan di rumah duka.

Jadi kata dia, setelah besoknya (hari H pencoblosan), korban sudah tidak bisa jalan, drop dirawat di RS Primaya, baru dirujuk ke RS Akademis.

"Diagnosanya, sesak napas, kecapean. Tidak ada riwayat karena memang tidak pernah sakit, cuma itu hari hujan-hujan pergi bagi-bagi undangan. Meninggal tadi ini, Kamis (15/2/2024) jam 2 dia meninggal," ujarnya.

Dia pun telah mengikhlaskan kepergian anaknya.

"Mau diapa karena sudah jalannya begitu," ucapnya.

Editor: Donald Karouw

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut