Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jemaah Syattariyah di Tanah Datar Baru Laksanakan Salat Iduladha Hari Ini
Advertisement . Scroll to see content

Waspada, Jaga Perilaku Belanja agar Tidak Dipermainkan Harga Jelang Hari Raya

Senin, 20 Maret 2023 - 15:46:00 WIB
Waspada, Jaga Perilaku Belanja agar Tidak Dipermainkan Harga Jelang Hari Raya
Ilustrasi keramaian di salah satu pusat perbelanjaan di Medan. (Foto: Antara)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Perilaku berbelanja masyarakat Indonesia yang cenderung berbondong-bondong dan memborong barang pada momen tertentu, menjadi pemicu hukum pasar berlaku. Harga komoditas barang akan melesat naik ketika permintaan tinggi berakibat barang menjadi langka. 

Kestabilan dan kewajaran harga pasar ditentukan, salah satunya oleh perilaku berbelanja warga, maka jangan menjadi langganan korban permainan harga.

Pakar ekonomi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, Imam Prayogo, membenarkan bahwa perilaku konsumen dalam berburu barang atau komoditas berpengaruh pada sentimen harga di pasaran.

Karenanya, mahasiswa program doktor pada Fakultas Ekonomi Undip itu menyarankan agar masyarakat bijak dalam berbelanja.

“Setelah memastikan barang yang akan dibeli merupakan kebutuhan (bukan keinginan), kemudian mempertimbangkan skala prioritas,” kata Igo, begitu sapaan akrabnya.

Membeli kebutuhan pokok, tidak perlu memburu diskon, sebab diskon pada dasarnya harga standar yang semula dinaikkan. Bahkan beberapa barang diskon hampir memasuki habis masa pakai.

Igo, yang merupakan ahli manajemen risiko, melihat fenomena berburu diskon masyarakat pada momen tertentu menjadi kemenangan kapitalis. Di mana seolah perputaran ekonomi tumbuh karena daya beli meningkat. Padahal, ada atau tidak adanya diskon, stok barang yang menjadi komoditas bahan pokok persediaannya tercukupi.

Hal ini karena, dalam memproduksi bahan pangan, ada fix cost dan variable cost. Produksi bahan pangan pastinya diproduksi setiap hari, sehingga persediaan akan bahan pangan selalu ada.

Maka, bila ada kelangkaan barang, pasti ulah distributor menimbun barang.

Sesaat lagi bulan suci Ramadan akan tiba, biasanya warga Muslim akan berduyun-duyun ke pasar, baik tradisional maupun modern, untuk berbelanja berbagai keperluan bahan pangan. 

Momen Ramadan dan Lebaran dan hari-hari besar keagamaan lain, bukanlah kejadian luar biasa yang datang tiba-tiba, melainkan momen rutin yang telah terjadwal pasti. Karenanya, masyarakat sudah bisa mempersiapkan jauh-jauh hari, tidak perlu tergopoh-gopoh belanja pada H-1 puasa, apalagi untuk bahan pangan yang memiliki masa simpan cukup lama.

Belanja pada saat musim padat, tidaklah nyaman. Perjalanan menuju pasar atau pusat perbelanjaan menemui kemacetan lalu-lintas di mana-mana, kemudian di lokasi belanja berdesakan dengan ramai orang, juga kecenderungan harga yang tengah tinggi.

Mengapa harga menjadi tinggi? Karena sebagian besar konsumen memburu komoditas barang yang sama. Untuk kategori sembilan bahan pokok (sembako) memang mau tidak mau harus dibeli, tapi di luar itu ada barang yang bersifat komplementer dan substitusi yang dapat disiasati.

Fanatisme warga terhadap jenis komoditas tertentu juga mempengaruhi pasokan dan harga. Semisal, ibu-ibu rumah tangga selalu berfokus membeli daging ayam dan daging sapi untuk lauk utama, hal itu membuat kedua komoditas itu selalu mengalami kenaikan harga cukup fantastis di waktu-waktu tertentu.

Padahal, bicara lauk-pauk dari protein hewani tidak hanya ayam dan daging sapi, melainkan ada banyak alternatif lain. Pada kategori unggas tersedia entok atau bebek, untuk daging terdapat daging kerbau atau kambing, sedangkan jenis ikan sangat berlimpah, baik ikan air tawar atau ikan laut, termasuk udang, cumi-cumi dan kawan-kawannya.

Siapa yang mewajibkan pada momen spesial harus menghidangkan menu opor ayam atau rendang daging sapi? Apakah harus, warga Muslim seantero daerah sajian Lebarannya seragam, opor ayam dan rendang? Yang membuat keduanya (ayam dan daging sapi) “besar kepala” karena diburu banyak orang.

Bila ingin membuat menu spesial, bermain dengan olahan ragam makanan laut juga menarik. Itu malah sejalan dengan gerakan makan ikan yang digalakkan pemerintah, sedangkan opor ayam bisa diganti dengan gulai entok, misalnya. Dendeng daging kerbau dapat menjadi alternatif pengganti rendang daging sapi, dan seterusnya.

Para ibu rumah tangga jangan fanatik dan mengharuskan memasak menu makanan sesuai tren pada umumnya. Berpikirlah bahan pangan substitusi dan alternatif, yang justru akan membuatnya berbeda dan terasa istimewa.

Perilaku konsumen yang mudah panik turut mempengaruhi fluktuasi harga. Setiap menjelang hari-hari besar keagamaan, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan, Badan Urusan Logistik (Bulog), Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan para pemangku kepentingan lainnya, turun ke pasar-pasar untuk memantau ketersediaan bahan pangan dan kestabilan harganya.

Menjelang Ramadan ini, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menjamin ketersediaan kebutuhan pokok.p

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut