Pakar USU Apresiasi Pemerintah Tangani Korban MBG Karo Dirujuk ke RS Jakarta
JAKARTA, iNews.id – Penanganan terhadap anak-anak terdampak dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mendapat perhatian langsung dari Pemerintah Pusat. Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka memfasilitasi rujukan bagi para korban yang membutuhkan penanganan medis lanjutan hingga ke Jakarta.
Langkah sigap tersebut diambil Wapres usai menemui langsung para korban dan pihak keluarga di Karo, sekaligus mengutus dokter pribadinya untuk memantau perkembangan kesehatan para siswa secara berkala.
Langkah responsif yang ditunjukkan Wapres Gibran mendapat apresiasi dari akademisi Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Wahyu Ario Pratomo.
Menurutnya, tindakan memfasilitasi rujukan ke rumah sakit dengan fasilitas lebih lengkap merupakan wujud nyata eskalasi penanganan dan keberpihakan pemerintah terhadap keselamatan masyarakat.
"Saya menilai langkah Wapres memfasilitasi rujukan ke Jakarta sebagai respons yang tepat. Ini menunjukkan adanya eskalasi penanganan ketika kondisi korban dinilai membutuhkan layanan yang lebih lengkap dan bentuk tanggung jawab pemerintah yang serius," ujar Wahyu di Medan, Selasa (15/9/2026).
Wahyu menegaskan, penanganan kesehatan korban MBG tidak boleh terhenti pada pertolongan darurat awal semata, terutama bagi siswa yang masih mengalami gejala berkepanjangan atau membutuhkan analisis medis spesialistik.
"Negara harus memastikan korban memperoleh pemeriksaan, terapi, observasi, dan tindak lanjut sampai kondisi mereka benar-benar stabil dan kembali normal. Fasilitasi ini memberi rasa aman dan kepastian bagi keluarga korban," tuturnya.
Di samping penanganan medis secara individual, Wahyu menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyelenggaraan program MBG secara nasional.
Pemerintah diimbau untuk menelusuri seluruh rantai penyediaan makanan guna mencegah terulangnya insiden serupa di wilayah lain.
"Evaluasi komprehensif dari hulu ke hilir sangat dibutuhkan untuk mengetahui letak kegagalan secara objektif sekaligus menentukan perbaikan yang harus dilakukan ke depan," kata Wahyu.
Editor: Kastolani Marzuki