Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Demo Kelangkaan BBM, Massa PMII Pangkep Blokade Trans Sulawesi 
Advertisement . Scroll to see content

Waspada Antraks, Dinas Pertanian dan Pangan Yogya Ambil Sampel ke RPH dan Pasar

Kamis, 23 Mei 2019 - 17:30:00 WIB
Waspada Antraks, Dinas Pertanian dan Pangan Yogya Ambil Sampel ke RPH dan Pasar
Dinas Pertanian dan Pangan Yogyakarta akan mengambil sampel menyeluruh menyusul munculnya penyakit antraks di Gunungkidul. (Foto: iNews.id/Kismaya Wibowo)
Advertisement . Scroll to see content

YOGYAKARTA, iNews.id - Dinas Pertanian dan Pangan bersama Balai Besar Veteriner Yogyakarta akan mengambil sampel menyeluruh untuk mengantisipasi penyebaran antraks usai munculnya dugaan penyakit tersebut di Kabupaten Gunungkidul.

“Kami akan lakukan pengambilan sampel di beberapa titik, mulai dari peternak, Rumah Pemotongan Hewan Giwangan hingga ke pasar,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto, Kamis (23/5/2019).

Menurut dia, di Kota Yogyakarta masih ada beberapa warga yang memiliki peternakan sapi khususnya di Kecamatan Kotagede dan Tegalrejo meskipun jumlah ternak yang dipelihara tidak terlalu banyak. Di peternakan, petugas akan mengambil sampel tanah.

Sedangkan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Giwangan, petugas akan mengambil sampel darah sapi, dan di pasar tradisional seperti di Beringharjo, Kranggan, dan Sentul akan dilakukan pengambilan sampel daging.

Sugeng mengatakan, antisipasi penyebaran antraks perlu dilakukan karena sapi maupun daging sapi yang beredar di Kota Yogyakarta sebagian besar berasal dari luar Kota Yogyakarta seperti dari Kabupaten Bantul dan Boyolali Jawa Tengah.

RPH Giwangan hanya mampu menyuplai daging sapi sebanyak dua ton per hari, padahal kebutuhan daging di Kota Yogyakarta mencapai sekitar enam ton per hari. “Kekurangan pasokan daging sapi dipenuhi dari luar daerah,” katanya.

Meskipun tidak ada catatan sapi dari Kabupaten Gunungkidul yang masuk secara langsung ke Kota Yogyakarta, Sugeng menengarai bahwa sapi tersebut biasanya tercatat sebagai sapi dari Kabupaten Bantul karena Gunungkidul belum memiliki tempat pemotongan hewan.

“Kewaspadaan harus terus ditingkatkan agar masyarakat merasa aman saat mengonsumsi daging sapi. Secara kasat mata, memang tidak bisa dibedakan antara daging sapi yang tertular antraks dengan daging sapi yang sehat. Memang harus di uji laboratorium,” katanya.

Isu mengenai penularan penyakit antraks pada sapi pernah terjadi pada 2017 yaitu sapi dari Kabupaten Kulonprogo DIY. Namun, penularan bisa langsung diantisipasi sehingga tidak semakin menyebar.

Diberitakan, sedikitnya lima ekor sapi ditemukan positif antraks di Kabupaten Gunungkidul, DIY. Dari kelima ternak itu, tiga di antaranya telah mati, sedangkan dua lagi kondisinya lemas.

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul yang menerima laporan langsung bergerak cepat. Petugas turun ke lapangan dan menyuntik seluruh ternak warga, baik sapi maupun kambing dengan antibiotik dan vitamin untuk menekan penyebarannya.

Editor: Kastolani Marzuki

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut