Legendaris Denmark Kenang Markis Kido: Dia Sosok Paling Berbakat di Bulu Tangkis
JAKARTA, iNews.id- Ucapan duka atas meninggalnya legendaris bulu tangkis Indonesia, Markis Kido terus mengalir. Kali ini, datang dari mantan ganda nomor satu dunia asal Denmark, Mathias Boe.
Mathis Boe memiliki kenangan manis bersama Kido di tahun 2013. Kedua bermain bersama di tim Awadhe Warriors pada ajang Preimer Badminton League (PBL) di India.
Boe mengungkapkan rasa duka cita mendalam atas meninggalnya Kido melalui akun Instagram pribadinya, Senin (14/6/2021). Boe juga mengunggah momen bermain di PBL bersama Kido.
"Berita buruk yang mengerikan mendengar tentang Markis Kido yang meninggal karena serangan jantung," kata Boe dalam unggahan di akun Instagramnya.
Berduka atas Meninggalnya Markis Kido, BWF: Dia Akan Selalu Dirindukan
Boe mengatakan Kido adalah pemain paling berbakat di olahraga bulutangkis. Dia mengaku sangat kehilangan Markis Kido.
"Salah satu pemain paling berbakat yang pernah ada dalam permainan ini. Senang bermain dengannya selama PBL tahun 2013. RIP teman, pikiran saya bersama keluarga Anda," ucapnya.
Ini Deretan Prestasi Markis Kido Bersama Hendra Setiawan
Markis Kido meninggal dunia padan Senin (14/6/2021) malam WIB. Kido wafat diduga akibat serangan jantung.
Infografis Markis Kido Meninggal Dunia
Markis Kido lahir di Jakarta 11 Agustus 1984. Seluruh dunia mengenalnya sebagai ganda putra andalan Tanah Air.
Markis Kido merupakan peraih medali emas Olimpiade 2008, memenangkan Piala Dunia 2006, serta juara dunia BWF 2007 dan 2010.
Markis Kido Meninggal Dunia, Sang Ibu: Hidup dan Mati Dia di Lapangan
Tidak hanya itu, Markis Kido juga menjuarai Asian Games 2010, serta tujuh medali emas SEA Games. Markis Kido melengkapi prestasinya dengan 10 gelar Superseries.
Pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan pernah menduduki peringkat pertama dunia ganda putra pada September 2007. Mereka adalah pasangan andalan Indonesia setelah pensiunnya pasangan Chandra Wijaya/Sigit Budiarto dan meredupnya pasangan Luluk Hadianto/Alvent Yulianto Chandra.
Editor: Ibnu Hariyanto