Pensiun, Lin Jarvis Ungkap Mimpi yang Belum Terwujud Bersama Yamaha
“Saya berharap selama karier saya, yang saya tahu akan berakhir cepat atau lambat, saya bisa memenangkan setidaknya dua gelar lagi bersama Yamaha berkat Fabio,” tuturnya.
“Itu adalah mimpi saya, mencoba mencapai 10 gelar. Sayangnya, pada pertengahan 2022, kami dengan cepat menyadari bahwa Ducati berkembang pesat, dan kecepatan pengembangan serta performanya terlalu cepat bagi kami,” ucapnya.
Jarvis mengakui, performa tim-tim rival dari Eropa seperti Ducati, KTM, Aprilia semakin melejit. Yamaha pun kian kesulitan untuk bisa menyaingi sejak musim 2022. Tapi dia mengungkapkan bahwa saat ini Yamaha telah melakukan banyak perubahan agar dapat kembali bersaing di papan atas.
“Jadi, kami mulai kesulitan sejak 2022. Kemudian, pada 2023, kami bermitra dengan [mantan kepala mesin Formula 1] Luca Marmorini untuk membantu kami, terutama di area mesin. Sejak saat itu, kami mulai membangun kembali karena kami melihat Ducati, tetapi juga pabrikan Eropa lainnya seperti KTM dan Aprilia, tumbuh dengan cepat,” ujarnya.
“Kami terus maju seperti itu. Honda, di sisi lain, tetap stagnan. Jadi, untuk mengejar ketertinggalan, kami harus banyak berinvestasi. Kami memulai lagi pada 2023, dan tahun itu kami melakukan banyak perubahan. Saya sangat senang bisa meninggalkan jabatan saya pada akhir tahun ini,” ucap Jarvis.