Kevin Cordon : Pebulu Tangkis Guatemala Tembus 8 Besar Olimpiade, Didikan Pelatih Indonesia

Quadiliba Al-Farabi ยท Jumat, 30 Juli 2021 - 08:07:00 WIB
Kevin Cordon : Pebulu Tangkis Guatemala Tembus 8 Besar Olimpiade, Didikan Pelatih Indonesia
Kevin Cordon mengukir cerita manis di Olimpiade Tokyo 2020. Pebulu tangkis tunggal putra Guatemala itu di luar dugaan mampu menginjakkan kaki di perempat final. (Foto: Reuters)

TOKYO, iNews.idKevin Cordon mengukir cerita manis di Olimpiade Tokyo 2020. Pebulu tangkis tunggal putra Guatemala itu di luar dugaan mampu menginjakkan kaki di perempat final.

Pencapaian fantastis itu didapat setelah dirinya mengalahkan wakil Belanda, Mark Caljouw dengan skor 21-17, 3-21, dan 21-19 pada babak 16 besar. Melaju ke perempat final merupakan prestasi terbaiknya di Olimpiade sejak berpartisipasi pada 2008.

Sebelumnya langkah paling mentereng yang bisa dicapainya hanya tembus babak 16 Besar pada Olimpiade 2012. Cordon masih tak menyangka kini bisa masuk ke babak delapan besar dan akan menghadapi pembunuh tunggal putra nomor satu dunia Kento Momota yakni Heo Kwang-hee (Korea Selatan).

Kevin Cordon mengukir cerita manis di Olimpiade Tokyo 2020. Pebulu tangkis tunggal putra Guatemala itu di luar dugaan mampu menginjakkan kaki di perempat final. (Foto: Reuters)
Kevin Cordon mengukir cerita manis di Olimpiade Tokyo 2020. Pebulu tangkis tunggal putra Guatemala itu di luar dugaan mampu menginjakkan kaki di perempat final. (Foto: Reuters)

“Ketika saya pertama kali lolos ke Olimpiade (di Beijing 2008) itu adalah mimpi. Awalnya saya menargetkan untuk memenangkan satu pertandingan,” ujar Cordon dikutip dari laman BWF, Jumat (30/7/2021)

“Setelah itu saya masih bermimpi untuk memenangkan lebih banyak pertandingan, dan sekarang saya sudah memenangkan tiga pertandingan di sini. Saya hanya tidak bisa mempercayainya,” tambahnya.

Perjuangan Cordon meniti karier bulu tangkis tergolong berat. Sebab atlet berusia 34 tahun itu tak mendapat banyak dukungan dari negaranya.

“Di Guatemala, mereka bukan penggemar berat bulu tangkis. Ini semua sepak bola, sepak bola, sepak bola. Bagi kami, tidak mudah mencapai turnamen. Bahkan bermain satu turnamen di Eropa sangat mahal. Jadi bermain di Olimpiade melawan pemain top yang biasa saya tonton di video atau internet adalah sebuah kehormatan,” ucapnya.

“Negara kami miskin dan bukan pendukung besar bulu tangkis, jadi jika kami memiliki satu kesempatan untuk bersaing, itu adalah bermain dengan hati, dan itulah yang saya lakukan. Saya bermain dengan hati saya,” tuturnya.

Editor : Reynaldi Hermawan

Halaman : 1 2