Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Korban Tewas Serangan Israel ke Gaza Tembus 75.000 Orang, 250.000 Luka
Advertisement . Scroll to see content

Bangkit dari Perang Gaza! Sepak Bola Palestina Kembali Digelar usai 3 Tahun Libur

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:00:00 WIB
Bangkit dari Perang Gaza! Sepak Bola Palestina Kembali Digelar usai 3 Tahun Libur
Sepak bola Palestina kembali digelar 4 September 2026 setelah hampir tiga tahun terhenti akibat perang Gaza melalui Thousand Martyrs' Cup. (Foto: Instagram @pfa.ps1)
Advertisement . Scroll to see content

RAMALLAH, iNews.id - Sepak bola Palestina akan kembali bergulir pada 4 September 2026 setelah kompetisi terhenti hampir tiga tahun akibat perang Gaza.

Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, mengumumkan dimulainya kembali aktivitas olahraga dan kompetisi sepak bola dalam konferensi pers di Ramallah, Senin (10/8/2026).

"Kami mengumumkan dimulainya kembali aktivitas olahraga dan liga asosiasi sepak bola pada 4 September," ujar Rajoub dikutip dari Aljazeera.

Kompetisi sepak bola Palestina sebelumnya terhenti sejak perang meletus setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel. Situasi perang membuat berbagai kegiatan olahraga, termasuk kompetisi profesional, tidak dapat berjalan seperti sebelumnya.

Kembalinya sepak bola Palestina akan ditandai dengan turnamen khusus bernama Thousand Martyrs' Cup. Nama tersebut dipilih untuk mengenang 1.014 atlet Palestina yang menurut data asosiasi sepak bola Palestina tewas selama perang.

Lebih dari 200 klub akan ambil bagian dalam turnamen tersebut. Pesertanya berasal dari sejumlah wilayah, termasuk 146 klub dari Tepi Barat yang diduduki Israel, 44 klub dari Gaza, serta 36 klub dari kamp pengungsi Palestina di Lebanon.

Pertandingan Thousand Martyrs' Cup akan dimulai secara bersamaan di tiga lokasi tersebut. Format ini membuat kompetisi menjadi simbol kembalinya aktivitas sepak bola Palestina setelah masa panjang tanpa kompetisi.

Pesan Sepak Bola Palestina

Rajoub mengatakan perang menciptakan kondisi sulit bagi masyarakat Palestina dan berdampak langsung terhadap kegiatan olahraga.

"Perang menciptakan kondisi sulit bagi seluruh rakyat Palestina yang menyebabkan penghentian kompetisi dan aktivitas kami," ujarnya.

Namun, dia menegaskan situasi tersebut tidak menghapus semangat masyarakat Palestina untuk tetap menjalankan aktivitas olahraga.

"Tetapi kami tidak kehilangan kehendak nasional Palestina, kami juga tidak kehilangan keyakinan jika olahraga akan tetap menjadi simbol harapan dan kehidupan," tuturnya.

Di sisi lain, Asosiasi Sepak Bola Palestina dan klub-klub di wilayah tersebut masih menghadapi persoalan finansial. Kondisi ekonomi menjadi salah satu tantangan dalam menghidupkan kembali kompetisi setelah aktivitas sepak bola berhenti dalam waktu lama.

Dalam kesempatan tersebut, Rajoub juga meminta FIFA dan federasi sepak bola lainnya memberikan dukungan terhadap olahraga Palestina. Dia menyerukan perlindungan terhadap hak pemain, klub, dan anak-anak untuk menikmati olahraga secara bebas dan bermartabat.

"Kami tidak meminta hak istimewa; kami menuntut hak-hak sah yang dijamin oleh hukum dan piagam olahraga internasional," kata Rajoub.

Asosiasi Sepak Bola Palestina sebelumnya juga menyampaikan kritik terhadap arah komersial FIFA. Pernyataan itu muncul setelah rencana Presiden FIFA Gianni Infantino untuk membuka turnamen kepada investor swasta ditarik kembali.

"Banyak orang saat ini mempertanyakan arah komersial FIFA," tuturnya.

"Tetapi bagi Palestina, masalahnya lebih mendasar... Pertanyaan kami adalah apakah FIFA masih memiliki keberanian untuk menerapkan peraturannya kepada semua pihak secara setara... tanpa menyerah pada tekanan politik," ucapnya.

Asosiasi Sepak Bola Palestina juga meminta FIFA menjatuhkan sanksi terhadap klub-klub Israel yang beroperasi di permukiman di Tepi Barat. Mereka turut menyerukan penangguhan keanggotaan Israel di FIFA terkait tindakan negara tersebut di Gaza.

Permukiman Israel di Tepi Barat dinyatakan ilegal berdasarkan hukum internasional.

Kembalinya kompetisi pada September menjadi momentum penting bagi sepak bola Palestina setelah hampir tiga tahun kehilangan aktivitas kompetitif. Lebih dari 200 klub dari Palestina dan komunitas pengungsi Palestina di Lebanon akan menjadi bagian dari turnamen yang juga digunakan untuk mengenang para atlet yang tewas selama perang.

Dengan digelarnya Thousand Martyrs' Cup, Asosiasi Sepak Bola Palestina berharap aktivitas olahraga kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setelah periode panjang konflik dan penghentian kompetisi.

Editor: Reynaldi Hermawan

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut