Bukayo Saka Raih Socrates Award 2026, Kisah Anak Rwanda Bikin Tersentuh
Biringiro kemudian memperkenalkan diri dan menceritakan kesulitan yang dia alami sejak berusia 12 tahun. Penglihatannya mulai menurun, sementara desa tempat tinggalnya tidak memiliki aliran listrik. Kondisi itu membuat aktivitas sehari-hari semakin sulit dilakukan.
“Ketika saya berusia 12 tahun, penglihatan saya mulai menurun. Desa saya tidak memiliki listrik, dan ketika penglihatan saya semakin memburuk, bahkan bergerak di dalam rumah menjadi sulit. Di sekolah, saya tidak bisa membaca tulisan guru di papan tulis dan saya kesulitan bermain bersama teman-teman. Saya hanya ingin bermain dengan bebas dan merasa seperti anak-anak lainnya,” demikian isi surat Biringiro yang dibacakan Saka.
Kondisi tersebut membuat Biringiro kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah dan bermain bersama teman-temannya. Dia hanya ingin menjalani kehidupan seperti anak-anak seusianya tanpa harus merasa berbeda karena gangguan penglihatan.
Perubahan mulai terjadi setelah Biringiro memperoleh perawatan mata melalui bantuan BigShoe. Penglihatannya membaik hingga dia mampu membaca tulisan di papan tulis dari bagian belakang ruang kelas.
“Lalu, berkat BigShoe, saya mendapatkan perawatan mata yang saya butuhkan. Hari ini, saya bisa membaca tulisan di papan tulis, bahkan dari bagian belakang kelas. Namun, yang lebih penting, saya tidak perlu lagi khawatir merasa berbeda. Saya bisa kembali menikmati masa kecil sebagai seorang anak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya bersemangat menatap masa depan. Suatu hari nanti, saya ingin menjadi guru bahasa Inggris,” lanjut surat tersebut.