Pelatih Asing Timnas Indonesia Bebas Bereksperimen dengan Taktik, Asalkan ...

Arif Budiwinarto ยท Kamis, 14 Mei 2020 - 22:00 WIB
Pelatih Asing Timnas Indonesia Bebas Bereksperimen dengan Taktik, Asalkan ...

Manajer Pelatih Timnas Indonesia U-19 Shin Tae-yong (kanan) berdiskusi dengan Asisten pelatih Indra Sjafri di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Senin (13/1/2020). (Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak)

JAKARTA, iNews.id - Timnas Indonesia sering menggunakan servis pelatih asing. Langkah tersebut memungkinkan PSSI mendapat banyak masukan dalam pengembangan sepak bola jangka panjang.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, PSSI banyak memperkerjakan pelatih asing sebagai arsitek tim nasional senior. Sebut saja Alfred Riedl yang mengantarkan Indonesia ke final AFF 2010, kemudian Luis Milla yang membawa timnas Indonesia U-23 ke perempatfinal Asian Games 2018. Terbaru, PSSI menunjuk Shin Tae-yong sebagai pelatih baru skuad Garuda terhitung sejak Desember 2019.

Pelatih-pelatih asing tersebut datang dengan membawa gaya permainan khasnya, seperti coach Shin Tae-yong yang terkenal dengan skema serangan balik cepat saat membawa Korea Selatan mengalahkan Jerman 2-0 di Piala Dunia 2018.

Menurut Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri, pelatih asing tersebut memang diberi kebebasan dalam menentukan gaya permainan. Hanya saja, mereka diharapkan bisa ikut berkontribusi mengembangkan dasar sepak bola Indonesia yang sudah terangkum dalam filanesia.

"Ya, sebenarnya Indonesia sudah harus bersyukur dengan banyaknya model-model pelatih yang datang, dan itu tidak akan mempertentangkan satu dengan lain. Kurikulum akan jadi bahan masukan, era Luis (Milla) ada yang bisa kita ambil, era Shin (Tae-yong) juga demikian," kata Indra Sjafri dalam wawancara eksklusif dengan iNews.id, Kamis (14/5/2020).

Indra mengatakan PSSI berusaha memberi pemahaman filanesia (Filosofi Sepak bola Indonesia) sejak level kelompok umur. Alasannya, di level tersebut para pemain berada dalam tahap pembangunan visi bermain serta karakter.

"Filanesia kurikulum dasar sepak bola Indonesia yang sesuai dengan kultur dan karakter pemain Indonesia. Kalau pemain sejak usia 13 tahun sudah paham filanesia, dia bisa mudah paham dengan game plan pelatih. Cara mainnya tidak jauh berbeda," ucapnya.

Lebih lanjut, Indra menyebut filanesia butuh waktu yang tak sebentar memperlihatkan hasilnya.

"Hasil-hasil filanesia baru terlihat 5-10 tahun mendatang, jika pemahaman filanesia bisa diterapakan tim-tim sejak usia muda," ujarnya.

Editor : Arif Budiwinarto