Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kejutan! Mantan Pemain Timnas Indonesia Pensiun di Usia 27 Tahun
Advertisement . Scroll to see content

Siapa Liam Rosenior? Calon Pelatih Chelsea yang Baru Pengganti Enzo Maresca

Jumat, 02 Januari 2026 - 15:00:00 WIB
Siapa Liam Rosenior? Calon Pelatih Chelsea yang Baru Pengganti Enzo Maresca
Sosok Liam Rosenior calon pelatih Chelsea yang baru (Foto: Sky Sports)
Advertisement . Scroll to see content

Sebagai penggemar Manchester United sejak kecil, Rosenior mengidolakan Sir Alex Ferguson. Namun secara filosofi, pengaruh Pep Guardiola terasa lebih kental dalam cara tim-timnya bermain. Sepak bola berbasis penguasaan, keberanian mengambil risiko, dan struktur permainan yang jelas menjadi ciri khasnya.

Salah satu kekuatan terbesar Rosenior adalah kemampuannya mengembangkan pemain muda. Di Hull, nama-nama seperti Tyler Morton, Jaden Philogene, dan Liam Delap mulai bersinar. Ia juga sukses menghidupkan kembali karier Fabio Carvalho yang sempat meredup di Liverpool.

Tak hanya pemain muda, Rosenior juga mampu mengangkat level pemain berpengalaman yang sebelumnya hanya berkutat di Football League. Di sinilah atribut terbesarnya terlihat: kecerdasan emosional.

Para pemain dikenal nyaman bekerja dengannya. Ia tahu kapan harus merangkul dan kapan harus bersikap tegas. Kritik Chelsea terhadap Maresca soal kurangnya kematangan emosional nyaris mustahil diarahkan kepada Rosenior.

Meski begitu, kariernya bukan tanpa cela. Hull gagal promosi dan performa tim menurun di akhir musim. Pemilik Hull, Acun Ilicali, bahkan menyebut gaya bermain yang membosankan—bukan kegagalan masuk play-off—sebagai alasan pemecatan.

Kritik lain yang kerap muncul adalah kurangnya fleksibilitas taktik ketika rencana utama tidak berjalan. Rosenior, di sisi lain, melihat itu sebagai konsistensi terhadap filosofi, bukan keras kepala.

Langkah ke Strasbourg kemudian menjadi keputusan tak terduga, namun strategis. Klub Ligue 1 itu berada di bawah payung BlueCo, grup yang juga memiliki Chelsea. Di Prancis, Rosenior tetap setia pada prinsipnya: mempercayai pemain muda dan memainkan sepak bola berani. Pendekatan ini dinilai selaras dengan profil skuad Chelsea saat ini.

Namun, melatih Chelsea jelas level tantangan yang sama sekali berbeda. Tekanan publik, ego besar di ruang ganti, dan ekspektasi instan adalah ujian yang belum pernah ia hadapi. Pengalaman Graham Potter menjadi pengingat betapa cepat segalanya bisa berantakan di Stamford Bridge.

Meski demikian, Rosenior dikenal tak pernah ragu dengan keyakinannya sendiri. Pidato-pidato motivasionalnya di ruang ganti yang beredar di media sosial menunjukkan karakter kuat dan keberanian mental.

Pada akhirnya, kesuksesan Rosenior—jika benar ditunjuk—akan diukur dengan satu hal: trofi. Ia belum pernah berada dalam perburuan gelar besar atau menghadapi tekanan perebutan juara. Itu akan menjadi ujian terbesar dalam kariernya.

Namun satu hal pasti, jika kesempatan itu datang, Liam Rosenior bukan tipe pelatih yang akan mundur dari tantangan.

Editor: Reynaldi Hermawan

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut