Bangkit dari Kubur! Friendster Resmi Comeback di iPhone
JAKARTA, iNews.id - Dunia media sosial dikejutkan oleh kebangkitan Friendster yang dulu sempat berjaya di awal 2000-an. Setelah 'menghilang' sejak 2015 akibat kalah bersaing dengan raksasa seperti Facebook, Instagram, hingga X, kini Friendster kembali dengan konsep yang benar-benar berbeda.
Mengusung semangat anti-algoritma, Friendster hadir dengan janji yang terdengar 'mustahil' di era sekarang, yaitu tanpa iklan, tanpa manipulasi feed, tanpa spam, dan tanpa menjual data pengguna. Platform ini secara tegas menyatakan hanya ingin menghubungkan pengguna dengan orang yang benar-benar mereka kenal di dunia nyata.
"Friendster membantu kamu terhubung dengan orang yang benar-benar kamu kenal. Tanpa iklan. Tanpa algoritma. Tanpa spam," tulis laman resminya, dikutip dari Rolling Stones, Jumat (1/5/2026).
Berbeda jauh dengan media sosial modern yang dipenuhi konten viral, rage farming, hingga engagement bait, Friendster justru menolak semua itu. Tidak ada rekomendasi akun asing, tidak ada konten acak dari luar lingkaran pertemanan, dan hanya fokusnya satu hal yaitu koneksi nyata.
Hanya Bisa di iPhone, Tambah Teman Harus ‘Sentuhan Fisik'
Saat ini, Friendster baru tersedia eksklusif di iPhone. Namun yang paling mencuri perhatian adalah cara menambahkan teman yang tidak biasa, pengguna harus menempelkan (tap) dua perangkat iPhone secara langsung.
Pendekatan ini bukan tanpa alasan. Sang pengembang, Mike Carson, menyebut metode tersebut sengaja dirancang untuk mendorong interaksi di dunia nyata.
"Ide bahwa satu-satunya cara berteman adalah dengan menempelkan ponsel terasa menyenangkan, karena itu membuat orang benar-benar bertemu langsung," ungkap Carson.
Dengan cara ini, Friendster ingin memastikan bahwa setiap koneksi adalah nyata, bukan sekadar angka atau followers tanpa makna.
Dibangun dari Nol, Bukan Sekadar Nostalgia
Carson diketahui membeli domain dan merek dagang Friendster yang sudah kedaluwarsa pada periode 2023–2025. Sejak saat itu, dia mengembangkan ulang platform ini dari nol dengan visi yang jauh dari sekadar nostalgia.
Menariknya, Carson mengaku tidak terlalu fokus pada keuntungan. Dia hanya berharap Friendster bisa membiayai dirinya sendiri di masa depan, kemungkinan lewat fitur premium berbayar.
Tak berhenti di situ, Friendster juga tengah menguji fitur unik yang berpotensi mengubah dinamika pertemanan digital:
Pengguna bisa mengirim pesan ke teman dari teman (friends of friends)
Koneksi pertemanan bisa 'memudar' jika dua pengguna tidak bertemu langsung selama satu tahun
Fitur terakhir ini disebut sebagai 'pengingat halus' bahwa hubungan pertemanan sejati harus dirawat di dunia nyata, bukan hanya lewat layar.
Di tengah kejenuhan pengguna terhadap algoritma agresif dan eksploitasi data, kebangkitan Friendster bisa menjadi angin segar. Platform ini seolah menantang paradigma media sosial modern yang selama ini didominasi oleh konten viral dan monetisasi.
Apakah Friendster benar-benar mampu kembali berjaya? Atau hanya sekadar fenomena sesaat yang memanfaatkan nostalgia? Yang jelas, satu hal mulai terasa, orang mulai rindu koneksi yang lebih nyata, dan Friendster datang di momen yang tepat.
Editor: Muhammad Sukardi