AI Assistant hingga Agentic AI Mulai Masuk Dunia Kerja, Pekerja Indonesia Harus Siap
JAKARTA, iNews.id — Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mulai mengubah cara manusia bekerja. Teknologi yang sebelumnya banyak digunakan sebatas untuk mencari informasi atau membuat konten kini berkembang menjadi sistem yang mampu membantu pekerjaan, menganalisis data, hingga menjalankan sejumlah tugas secara lebih mandiri.
Perubahan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Indonesia Human Capital and Beyond Summit (IHCBS) 2026. Forum ini menilai perkembangan AI harus diikuti kesiapan sumber daya manusia (SDM) agar pekerja Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas.
Chairman of Steering Committee GNIK, Yunus Triyonggo, mengatakan transformasi teknologi membuat peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi semakin penting. Menurut dia, persoalan Indonesia bukan hanya mengenai seberapa banyak teknologi yang digunakan, tetapi sejauh mana teknologi tersebut mampu menciptakan nilai tambah.

"BEYOND berarti kita melihat human capital tidak hanya sebagai human resources, tetapi sebagai potensi bangsa untuk meningkatkan produktivitas," ujar Yunus dalam Media Day IHCBS 2026 di Wayang Bistro, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Perkembangan AI di dunia kerja kini juga mulai bergerak melampaui chatbot konvensional.
Salah satu bentuk yang semakin banyak dibicarakan adalah AI assistant, yakni teknologi yang dirancang untuk membantu manusia menyelesaikan pekerjaan tertentu. AI dapat digunakan untuk merangkum dokumen, menyusun laporan, mencari informasi, menganalisis data, hingga membantu berbagai pekerjaan administratif.
Tahap berikutnya adalah augmented AI, ketika AI tidak hanya mengerjakan tugas tertentu, tetapi memperkuat kemampuan manusia dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan pekerjaan yang lebih kompleks.
Sementara itu, agentic AI membawa perubahan yang lebih besar. Sistem ini dikembangkan agar AI dapat menjalankan serangkaian tugas berdasarkan tujuan yang diberikan, dengan tingkat kemandirian yang lebih tinggi dibandingkan AI generatif biasa.
Artinya, pekerja ke depan tidak hanya berhadapan dengan perangkat lunak sebagai alat bantu, tetapi bisa bekerja berdampingan dengan sistem AI yang mampu mengambil sejumlah langkah untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan.
Perubahan inilah yang membuat keterampilan manusia menjadi semakin penting.
Founder and CEO GML sekaligus Founder QuBisa, Suwardi Luis, mengatakan AI dan digitalisasi seharusnya tidak ditempatkan sebagai teknologi yang menggantikan manusia.
"AI dan digitalisasi harus berorientasi dan digawangi dengan human capital capability," kata Suwardi.
Menurut dia, ada tiga elemen yang harus berjalan bersama dalam transformasi digital, yakni people, technology, dan purpose.
Teknologi tanpa manusia yang memiliki kompetensi dinilai tidak akan menghasilkan perubahan maksimal. Begitu pula penggunaan AI tanpa tujuan yang jelas berisiko hanya menjadi tren tanpa dampak terhadap produktivitas.
Perubahan teknologi tersebut juga membawa konsekuensi terhadap kompetensi tenaga kerja.
Pekerja yang sebelumnya hanya dituntut mampu menggunakan perangkat digital kini perlu memahami bagaimana bekerja bersama AI. Kemampuan memberikan instruksi kepada AI, memverifikasi hasil, membaca data, memahami risiko, hingga mengambil keputusan tetap membutuhkan peran manusia.
Karena itu, upskilling dan reskilling menjadi semakin penting.
"Target kami tidak hanya aktivitas, tetapi ada output dan outcome. Setelah acara ini harus ada gerakan-gerakan yang bisa dirasakan," ujar Suwardi.
Pesan tersebut menjadi relevan karena perkembangan AI tidak berlangsung dalam waktu yang lama. Teknologi yang saat ini masih dianggap baru dapat dengan cepat menjadi bagian dari aktivitas kerja sehari-hari.
Dalam konteks tersebut, ancaman terbesar bukan semata-mata AI menggantikan manusia, melainkan pekerja yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan sementara pekerja lain sudah memanfaatkan AI untuk bekerja lebih cepat dan produktif.
Urgensi peningkatan kompetensi juga tidak terlepas dari persoalan produktivitas tenaga kerja Indonesia.
Yunus menyebut produktivitas tenaga kerja Indonesia masih berada di bawah sejumlah negara ASEAN. Ia mencontohkan produktivitas per jam pekerja Indonesia yang disebutnya berada di kisaran 13–15 dolar AS, sedangkan Malaysia mencapai sekitar 26–27 dolar AS.
"Kalau dibandingkan Malaysia, satu jam pekerja kita di Indonesia menghasilkan 13–15 dolar AS. Malaysia sudah 26–27 dolar AS," ujar Yunus.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas SDM tidak cukup hanya melalui pendidikan dan pelatihan konvensional. Kompetensi harus berujung pada kemampuan menciptakan nilai tambah dan meningkatkan produktivitas.
Di sinilah AI dapat menjadi salah satu instrumen penting.
Jika dimanfaatkan dengan tepat, AI dapat membantu pekerja mengurangi pekerjaan repetitif, mempercepat pengolahan informasi, meningkatkan efisiensi, sekaligus memberi lebih banyak waktu bagi manusia untuk mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, komunikasi, strategi, dan pengambilan keputusan.
Namun, manfaat tersebut tidak otomatis muncul hanya karena sebuah perusahaan telah menggunakan AI.
Perusahaan tetap membutuhkan SDM yang memahami kapan AI harus digunakan, bagaimana mengawasi hasilnya, serta kapan keputusan harus tetap berada di tangan manusia.
IHCBS 2026 mengusung tema 'Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity'. Tema tersebut menggambarkan perubahan paradigma bahwa transformasi digital tidak semata-mata berbicara tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi dapat memperkuat manusia.
Karena itu, keterampilan masa depan kemungkinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis menggunakan AI.
Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, kepemimpinan, dan kemampuan mengambil keputusan justru berpotensi semakin penting ketika pekerjaan rutin semakin mudah diotomatisasi.
Dengan kata lain, semakin canggih AI, semakin besar kebutuhan terhadap manusia yang mampu mengendalikan, mengarahkan, dan mengevaluasi teknologi tersebut.
IHCBS 2026 akan berlangsung pada 15–16 September 2026 dengan target sekitar 6.000 peserta. Forum tersebut memperluas agenda menjadi delapan track dan menghadirkan Digitalization Zone yang melibatkan sekitar 100 penyedia solusi di bidang HR, AI, dan digitalisasi.
Editor: Muhammad Sukardi