AI Makin Canggih, Anak Muda Mulai Khawatir soal Masa Depan Dunia Kerja
JAKARTA, iNews.id – Kecerdasan buatan (AI) berkembang semakin cepat dan mulai mengubah cara manusia bekerja. Bagi generasi muda yang akan memasuki dunia kerja, perkembangan ini tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang pekerjaan dan keterampilan yang akan dibutuhkan di masa depan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan ratusan pelajar dalam Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) Cibubur Chapter. Sebanyak 312 pelajar dari 165 sekolah dan perguruan tinggi mengikuti simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut.
Dalam forum International Labour Organisation (ILO), para peserta membahas tema Ethical Innovation: Ensuring the Responsible Integration of Artificial Intelligence into the Labor Market. Mereka diminta melihat perkembangan AI bukan hanya dari sisi kecanggihannya, tetapi juga dampaknya terhadap pekerja dan masa depan pasar tenaga kerja.
Pembahasan tersebut membuat isu AI terasa lebih dekat dengan kehidupan peserta. Sebagian dari mereka merupakan calon pekerja yang dalam beberapa tahun ke depan akan menghadapi dunia kerja yang kemungkinan sudah jauh berbeda dibandingkan kondisi saat ini.
AI memang dapat membantu manusia menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, mengolah informasi, hingga mengotomatisasi sejumlah tugas. Namun, perkembangan teknologi juga menimbulkan pertanyaan mengenai perubahan jenis pekerjaan, kebutuhan keterampilan baru, serta posisi manusia ketika semakin banyak tugas dapat dilakukan mesin.
Dalam simulasi tersebut, peserta tidak sekadar berdebat mengenai apakah AI akan menggantikan manusia. Mereka juga harus mencari pendekatan agar penerapan AI di dunia kerja tetap memperhatikan kepentingan pekerja.
Para peserta berperan sebagai delegasi berbagai negara. Mereka melakukan riset mengenai persoalan yang dibahas, menyampaikan posisi negara masing-masing, bernegosiasi dengan delegasi lain, hingga menyusun draft resolution sebagai bentuk rekomendasi kebijakan.
President International Global Network (IGN), Muhammad Fahrizal, mengatakan pengalaman tersebut mengajarkan peserta untuk melihat persoalan global dari perspektif yang berbeda.
"Selama konferensi ini, kalian tidak hanya akan mewakili sebuah negara. Kalian akan belajar memahami perspektif yang mungkin berbeda dari perspektif kalian sendiri. Kalian akan melakukan riset mengenai berbagai permasalahan global, mempertahankan gagasan kalian, mendengarkan orang lain, bernegosiasi untuk menemukan solusi, dan bekerja sama," ujarnya dalam keterangan, Kamis (1/10/2026).
Menurut dia, kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi dengan jelas, bekerja sama, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab menjadi bagian penting yang perlu dimiliki generasi muda.
Kasi SMP/SMA Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Timur, Sriyadi, yang mewakili Wali Kota Jakarta Timur saat membuka kegiatan, juga mendorong peserta untuk berani menyampaikan pandangan dan mengembangkan kemampuan diplomasi.
"Gunakan forum ini untuk berani bersuara dan berani berbeda pendapat. Latih kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi, berdiplomasi dan kepemimpinan," kata Sriyadi.
Selain AI dan dunia kerja, peserta AYIMUN Cibubur Chapter membahas persoalan kemiskinan lintas generasi melalui forum Economic and Social Council (ECOSOC). Topik yang diangkat yakni Breaking Chains: Tackling Intergenerational Poverty from Its Roots.
Dua isu tersebut memperlihatkan bagaimana generasi muda mulai diajak melihat persoalan masa depan bukan hanya sebagai sesuatu yang terjadi jauh di luar kehidupan mereka. Perkembangan teknologi, perubahan pasar kerja, hingga kesenjangan ekonomi merupakan persoalan yang berpotensi mereka hadapi ketika memasuki usia produktif.
Karena itu, pembahasan mengenai AI tidak berhenti pada seberapa canggih teknologi tersebut. Bagi anak muda, pertanyaan lainnya adalah bagaimana mereka mempersiapkan diri agar tetap relevan ketika teknologi terus mengubah cara dunia bekerja.
Editor: Muhammad Sukardi