Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Riset IJTI: AI Permudah Kerja, tapi Tak Bisa Gantikan Jurnalis
Advertisement . Scroll to see content

Asosiasi Media Siber Ungkap Hampir Semua Jurnalis Gunakan AI sebagai Alat Bantu

Sabtu, 28 Februari 2026 - 08:08:00 WIB
Asosiasi Media Siber Ungkap Hampir Semua Jurnalis Gunakan AI sebagai Alat Bantu
AMSI ungkap hampir seluruh jurnalis telah memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam proses produksi berita. (Foto: Niko Prayoga)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Kabid Teknologi Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Heru Tjatur, mengungkapkan hampir seluruh jurnalis saat ini telah memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam proses produksi berita. Dia menyebut, berdasarkan sejumlah literatur, tren penggunaan AI di ruang redaksi terus meningkat. 

Mayoritas jurnalis memposisikan AI sebatas sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia dalam kerja jurnalistik.

“Hampir semua jurnalis bilang bahwa ya AI ini hanya tool gitu ya. Jadi mereka akan apa menggunakan AI ini hanya sebagai alat bantu untuk melakukan kerja-kerja jurnalistik. Kalau itu yang di ini, saya yakin mayoritas jurnalis pasti sudah akan menggunakan AI,” katanya.

Menurut dia, AI banyak digunakan untuk mengumpulkan informasi latar belakang sebuah topik hingga membantu proses transkripsi wawancara. Proses yang sebelumnya memakan waktu lama kini dapat diselesaikan dalam waktu lebih singkat.

“Yang paling sederhana misalnya satu mereka bisa menggunakan AI, biasanya menggunakan AI untuk mengumpulkan background informasi terhadap satu topik yang mereka menulis. Nah dulu kalau misalnya itu dilakukan tanpa AI akan butuh waktu yang lama untuk compile seluruh apa bahan bacaan yang mereka lakukan, melakukan transkripsi itu akan lama,” ujarnya.

Heru menilai efisiensi tersebut berdampak pada peningkatan produktivitas jurnalis. Dia menggambarkan proses transkripsi wawancara berdurasi satu jam yang sebelumnya bisa memakan waktu lebih dari tiga jam.

“Pasti tingkat produktivitas mereka akan pasti jauh lebih lebih lebih tinggi. Karena karena proses produksinya itu mereka akan dipangkas. Kebayang enggak teman-teman apa namanya kalau kita harus men-transcript rekaman sejam kita interview sejam gitu apa sejam men-transcript-nya bisa lebih dari tiga 3 jam,” katanya.

Tak hanya mempercepat transkripsi, AI juga mampu merangkum isi wawancara sehingga membantu jurnalis menentukan sudut pandang penulisan lebih cepat. Namun, dia mengingatkan bahwa penggunaan AI tetap harus berada dalam koridor etika dan tanggung jawab profesional.

“Cuma memang betul apa namanya apa Dewan Press juga apa namanya sudah memberikan ini ya tapi kan memberikan panduan bahwa ujungnya gitu karena tanggung jawab ujungnya itu tetap ada ada di jurnalis. Jadi, tidak bisa produk jurnalistik itu automatik tanpa intervensi manusia kemudian produk dan cara jurnalistik itu muncul langsung di publish di platform penerbitan media tersebut secara langsung itu tidak tidak dianjurkan lah,” ujarnya.

Dia menegaskan, produk jurnalistik tidak boleh sepenuhnya dihasilkan dan dipublikasikan tanpa campur tangan manusia. Tanggung jawab akhir atas akurasi, keberimbangan, dan etika pemberitaan tetap berada di tangan jurnalis.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut