Banyak Tantangan di Era Digital, Peran PR Tak Hanya Penyampai Pesan
JAKARTA, iNews.id – Di era digital yang dipenuhi arus informasi cepat, notifikasi media sosial tanpa henti, serta peran besar data dan algoritma, fungsi public relations (PR) berubah signifikan. PR bukan lagi hanya bertugas menyampaikan pesan perusahaan, melainkan berperan sebagai pengelola makna, penjaga reputasi di ruang digital, sekaligus perancang narasi strategis di hadapan publik.
Perubahan wajah PR ini disampaikan praktisi komunikasi Arif Mujahidin. Dia mengemukakan PR masa kini dituntut mampu memastikan pesan tersampaikan dengan tepat, relevan, dan konsisten di berbagai kanal komunikasi, baik media arus utama maupun platform digital dan media sosial. Kecepatan perkembangan teknologi membuat satu pesan bisa menyebar luas dalam hitungan detik.
Menurut Arif, tantangan terbesar PR di era digital terletak pada keseimbangan antara kecepatan dan akurasi. Media sosial dan data analytics membuka peluang besar membangun kepercayaan publik,. Namun di sisi lain juga membawa risiko munculnya misinformasi, ajakan boikot, hingga krisis reputasi yang bisa terjadi kapan saja.
"Sebab itu, literasi teknologi dan pemahaman konteks sosial menjadi keahlian wajib bagi praktisi PR masa kini," ujarnya, saat berbincang dengan jurnalis Sabtu (10/1/2026).
Tak hanya soal teknologi, Arif juga menekankan pentingnya membangun jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi bersama jurnalis, komunitas, akademisi, hingga tokoh masyarakat dinilai mampu memperkuat komunikasi yang kredibel dan berkelanjutan di tengah ekosistem digital yang terbuka.
Mengedepankan konsistensi, integritas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, PR kini menjelma menjadi kekuatan strategis. Perannya bukan sekadar pendukung bisnis dan menyampaikan pesan, melainkan aktor penting dalam membangun dialog publik yang sehat, konstruktif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.
Editor: Dani M Dahwilani