Facebook Siap Bayar Rp50 Juta per Bulan untuk Kreator Konten, Ini Tugasnya!
JAKARTA, iNews.id - Langkah agresif dilakukan Facebook. Platform media sosial raksasa ini menawarkan bayaran hingga 3.000 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp50 jutaan per bulan kepada kreator dari TikTok dan YouTube agar mau mengunggah konten di Facebook.
Program bernama Creator Fast Track yang digagas oleh Meta ini secara terang-terangan menargetkan kreator besar, khususnya mereka yang sudah punya lebih dari satu juta pengikut di platform lain.
Sebagai imbalannya, kreator diwajibkan mengunggah 15 video pendek (Reels) per bulan. Program ini hanya berlangsung maksimal tiga bulan dan untuk sementara baru tersedia di Amerika Serikat serta Kanada.
Tak hanya itu, kreator dengan jumlah pengikut di bawah satu juta juga tetap bisa ikut, dengan bayaran hingga 1.000 dolar AS atau sekitar Rp16 jutaan per bulan.
Meta sendiri mengklaim telah menggelontorkan hampir 3 miliar dolar AS kepada kreator sepanjang 2025, sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem konten di platform mereka.
Di balik tawaran menggiurkan tersebut, muncul kritik tajam yang menyebut langkah ini sebagai sinyal kepanikan.
Jordan Schwarzenberger, manajer dari grup kreator Sidemen, secara blak-blakan menilai strategi ini tidak menyentuh akar masalah.
"Sebagai seorang kreator, Anda selalu mengikuti audiens, jadi ini tidak menyelesaikan masalah," katanya, dikutip dari BBC, Jumat (20/3/2026).
"Saya menyukai Facebook dan Meta serta apa yang mereka lakukan, tetapi ini terasa seperti langkah yang agak putus asa," tambahnya.
Menurut dia, dalam dunia kreator, arah pergerakan selalu mengikuti audiens, bukan sebaliknya. Tanpa audiens yang kuat, memindahkan kreator ke platform lain dinilai tidak akan berdampak besar.
Ia bahkan mengungkap fakta bahwa Facebook sudah lama ditinggalkan sebagai platform utama.
"Facebook sudah bukan prioritas selama hampir satu dekade," katanya.
Lebih jauh, dia menegaskan bahwa kebiasaan pengguna saat ini adalah memilih platform terlebih dahulu, baru kemudian mengikuti kreator.
"Kenyataannya, orang-orang mengunjungi platform terlebih dahulu sebelum mencari kreatornya," imbangi.
Akibatnya, meski kreator diajak pindah, belum tentu penggemar mereka akan ikut.
"Mereka mungkin juga akan mendapatkan konten yang sama di TikTok, Instagram, dan platform lain yang benar-benar mereka gunakan," lanjutnya.
Dari sisi bisnis, angka yang ditawarkan Facebook juga dianggap belum cukup menggoda, terutama bagi kreator besar.
Dengan bayaran sekitar 200 dolar AS atau sekitar Rp3,3 jutaan per video, Schwarzenberger menilai nominal tersebut bahkan tidak bisa menutup biaya produksi.
"Itu bahkan tidak cukup untuk menutupi biaya produksi bagi sebagian kreator. Jadi, menurutku ide Facebook ini tidak masuk akal," tegasnya.
Padahal, kreator dengan jutaan pengikut umumnya sudah meraup pendapatan jauh lebih besar dari kerja sama brand, monetisasi YouTube, hingga sistem membership.
"Sebagian besar kreator dengan lebih dari satu juta pengikut akan menghasilkan lebih banyak uang dari kesepakatan merek atau mungkin dari pendapatan langsung di YouTube atau keanggotaan," katanya.
Meski Facebook juga menawarkan tambahan penghasilan dari sistem monetisasi berbasis jumlah penayangan dan durasi tontonan, program ini dinilai hanya akan menarik kreator kecil.
Program ini, menurutnya, hanya akan menarik kreator kecil dan tidak akan memberikan dampak nyata dan tidak akan benar-benar menarik penonton di Facebook.
Editor: Muhammad Sukardi