Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Medsos Terbukti Bisa Memicu Anxiety hingga Depresi, Ini Penjelasannya!
Advertisement . Scroll to see content

Jangan Sepelekan Kebiasaan Scroll Media Sosial, Otak Bisa Overstimulasi

Senin, 10 Agustus 2026 - 15:19:00 WIB
Jangan Sepelekan Kebiasaan Scroll Media Sosial, Otak Bisa Overstimulasi
Kebiasaan menggulir layar ponsel dan membuka media sosial secara terus-menerus ternyata berdampak pada kesehatan mental. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kebiasaan menggulir layar ponsel dan membuka media sosial secara terus-menerus ternyata tidak selalu memberikan hiburan. Jika dilakukan tanpa batas, paparan informasi yang datang silih berganti dapat membuat otak menerima rangsangan secara berlebihan atau mengalami overstimulasi.

Kondisi ini patut diperhatikan, terutama bagi orang yang merasa semakin lelah, jenuh, atau cemas setelah menghabiskan banyak waktu di media sosial. Alih-alih membuat pikiran rileks, aktivitas scroll tanpa henti justru dapat berkontribusi terhadap kelelahan mental.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Adam Prabata menjelaskan media sosial dapat memicu overstimulasi yang berdampak pada kondisi psikologis seseorang. Paparan berbagai informasi secara terus-menerus membuat seseorang sulit mendapatkan waktu untuk benar-benar beristirahat dari rangsangan digital.

“Media sosial memang bisa memicu overstimulasi yang berujung pada kecemasan dan kelelahan mental. Durasi detoks yang optimal bervariasi antar penelitian, namun sebagian menyebutkan durasi satu sampai dua minggu,” ujar dr Adam, dikutip Senin (10/8/2026).

Salah satu masalah dari kebiasaan menggunakan media sosial secara berlebihan adalah paparan notifikasi yang tidak pernah berhenti. Dorongan untuk terus memeriksa pesan, melihat unggahan terbaru, atau mengikuti berbagai informasi dapat membuat seseorang sulit melepaskan diri dari layar.

Selain itu, media sosial juga dapat mendorong seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Berbagai unggahan yang menampilkan pencapaian, gaya hidup, hingga aktivitas orang lain berpotensi memunculkan tekanan psikologis jika dilihat secara berlebihan.

“Tujuan detoks media sosial adalah mengurangi melihat notifikasi terus menerus, menurunkan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, dan menurunkan fomo (fear of missing out),” ucapnya.

Sebab itu, mengambil jeda dari media sosial atau melakukan social media detox dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi paparan rangsangan digital. Detoks tidak selalu berarti harus menghapus seluruh aplikasi media sosial.

Seseorang bisa memulainya dengan langkah sederhana, seperti mematikan notifikasi, membatasi waktu penggunaan aplikasi, atau menentukan waktu tertentu untuk tidak menggunakan media sosial. Durasi detoks dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.

dr Adam menyebut sejumlah penelitian menemukan durasi detoks yang berbeda-beda. Namun, sebagian penelitian yang dia rujuk menyebut jeda selama satu hingga dua minggu.

“Bagi kalian yang sedang merasa lelah setiap melihat media sosial, detoks media sosial bisa menurunkan gejala depresi, kecemasan, dan perbaikan kualitas hidup secara keseluruhan,” katanya.

Agar proses detoks tidak sekadar mengganti waktu scrolling dengan aktivitas digital lainnya, waktu luang dapat dialihkan ke kegiatan offline. Aktivitas fisik dan interaksi langsung dengan orang lain dapat menjadi pilihan untuk mengembalikan keseimbangan rutinitas.

“Untuk manfaat yang lebih optimal, bisa dikombinasikan dengan meningkatkan aktivitas offline seperti olahraga, interaksi tatap muka, dan istirahat,” ujarnya.

Memberikan jeda, seseorang dapat kembali memiliki waktu tanpa paparan notifikasi dan arus informasi yang terus bergerak. Kebiasaan tersebut juga dapat membantu mengevaluasi kembali penggunaan media sosial agar aktivitas digital tidak mengganggu waktu istirahat dan keseharian.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut