Mengejutkan! Ini Alasan OpenAI Jalin Kerja Sama dengan Departemen Perang AS
JAKARTA, iNews.id – Keputusan OpenAI menjalin kerja sama dengan Department of War Amerika Serikat (DoW AS) mengejutkan banyak pihak. Lantas, apa yang melatarbelakangi perusahaan teknologi AI ini mau bekerja sama dengan DoW AS?
Selama ini, OpenAI dikenal vokal soal keamanan dan etika kecerdasan buatan. Namun kini, perusahaan tersebut justru masuk ke lingkungan militer yang bersifat rahasia (classified).
Lalu, apa sebenarnya alasan di balik keputusan ini? Simak pembahasan selengkapnya di artikel ini.

Ancaman Global Berbasis AI
OpenAI secara terbuka menyatakan bahwa militer Amerika Serikat menghadapi tantangan baru dari aktor global yang juga mengembangkan dan memanfaatkan AI untuk kepentingan pertahanan dan strategi keamanan.
Menurut perusahaan, jika teknologi AI tidak tersedia bagi pemerintah yang tunduk pada hukum dan pengawasan ketat, maka ada risiko ketertinggalan strategis. Dengan kata lain, OpenAI menilai keterlibatan mereka justru bertujuan menjaga keseimbangan teknologi di tingkat global.
Ingin Mengendalikan Penggunaan, Bukan Melepaskannya
Alasan lain yang cukup mengejutkan adalah OpenAI tidak ingin teknologinya digunakan tanpa pengawasan. Dengan masuk secara resmi melalui kontrak, perusahaan dapat memastikan model AI tetap dijalankan melalui sistem cloud yang dikendalikan oleh mereka.
Artinya, tidak ada model yang diberikan tanpa guardrails. Semua sistem keamanan, moderasi, dan pemantauan tetap aktif. OpenAI juga menempatkan personel berizin keamanan untuk mengawasi implementasi tersebut.
Langkah ini disebut sebagai cara untuk tetap memegang kendali atas penggunaan AI di sektor pertahanan.
Meski menyepakati kerja sama dengan Departemen Perang Amerika Serikat, OpenAI menegaskan tiga batasan yang tidak boleh dilanggar dalam kerja sama ini:
1. AI tidak boleh digunakan untuk pengawasan massal domestik.
2. AI tidak boleh mengendalikan senjata otonom tanpa kontrol manusia.
3. AI tidak boleh digunakan untuk keputusan otomatis berisiko tinggi seperti sistem penilaian sosial.
Perusahaan mengklaim batasan ini lebih kuat dibanding perjanjian AI sebelumnya.
Hal yang tak kalah mengejutkan, OpenAI mengaku tidak langsung menerima kerja sama tersebut. Mereka menunda hingga sistem keselamatan internal dianggap cukup matang untuk diterapkan di lingkungan rahasia.
Perusahaan menyatakan perlu memastikan arsitektur teknis dan kontrak hukum benar-benar mampu mencegah penyalahgunaan sebelum menyepakati kerja sama.
OpenAI juga meminta agar akses ke lingkungan classified tersebut tidak hanya diberikan kepada mereka. Perusahaan menyatakan ingin kesepakatan serupa dapat diakses oleh perusahaan AI lain dengan standar yang sama.
Langkah ini disebut sebagai upaya mencegah monopoli akses teknologi AI di sektor pertahanan.
Editor: Muhammad Sukardi