Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Dewan Pers Minta Google Buka Dialog soal Publisher Rights di Era AI
Advertisement . Scroll to see content

Menko Pratikno Tegur Google dan YouTube: Perlindungan Anak Tak Cukup Hanya Panduan

Selasa, 10 Februari 2026 - 18:09:00 WIB
Menko Pratikno Tegur Google dan YouTube: Perlindungan Anak Tak Cukup Hanya Panduan
Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengkritik platform digital raksasa dunia, Google dan YouTube. (Foto: Niko)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengkritik platform digital raksasa dunia, Google dan YouTube, terkait upaya perlindungan anak di ruang digital. Kritik tersebut disampaikan Pratikno dalam acara Bijak Cerdas Berdigital dan Ber-AI yang diselenggarakan Google dan YouTube dalam rangka Hari Keamanan Berinternet 2026 di Kemenko PMK, Selasa (10/2/2026).

Pratikno menegaskan perlindungan digital bagi anak menjadi hal krusial karena berdampak langsung terhadap kesehatan fisik dan mental. Menurut dia, hal tersebut tak terlepas dari masifnya penggunaan platform digital seperti Google dan YouTube oleh anak-anak saat ini.

“Presiden Prabowo punya konsen yang luar biasa untuk SDM unggul dan tangguh, itu adalah mandat kita. Bahwa semua anak Indonesia semua orang tua itu satu harus sehat. Sehat secara fisik, sehat secara mental, sehat secara moral, sehat secara sosial, sehat secara sekujur tubuh,” kata Pratikno.

Dalam kesempatan itu, Pratikno menyoroti langkah Google yang dinilai masih terlalu fokus pada pembuatan panduan bagi orang tua dan guru terkait edukasi ketahanan digital anak. Menurut dia, panduan semata tidak cukup jika tidak diikuti dengan implementasi nyata di lapangan.

“Kita-kita ini sudah banyak tergantung, banyak bergantung kepada anda (YouTube dan Google). Makanya tadi saya katakan anda tidak cukup hanya panduan untuk orang tua, panduan untuk orang guru, panduan untuk itu. Menulis panduan tapi nggak ada yang menggunakan,” ujarnya.

Pratikno menekankan indikator keberhasilan atau key performance indicator (KPI) seharusnya bukan pada jumlah panduan yang dibuat, melainkan sejauh mana panduan tersebut benar-benar digunakan oleh masyarakat.

“Makanya saya bilang tadi KPI nya bukan sudah membuat guidance. Tapi sejauh mana orang Indonesia, anak-anak Indonesia, orang tua Indonesia menggunakan. Kalau sudah membuat enggak ada yang menggunakan apa gunanya? Saya ingin mengatakan kepada anda (YouTube dan Google), bukan anda telah membuat, tapi sudah digunakan,” katanya.

Lebih lanjut, Pratikno mengusulkan agar platform digital mengembangkan teknologi pendeteksi usia yang terintegrasi dengan sistem. Dengan teknologi tersebut, sistem dapat secara otomatis memblokir konten yang tidak layak diakses anak-anak.

Dia menyebut langkah tersebut penting sebagai bentuk dukungan dan kolaborasi dengan pemerintah dalam upaya perlindungan digital anak. “Jadi ini kan tidak cukup kita kami bekerja keras untuk melakukan edukasi. Melalui Kominfo, Kemendukbangga, Dikdasmen, Dikti, kemudian PPA kami melakukan edukasi,” ujarnya.

Pratikno pun menegaskan kembali agar Google dan YouTube memastikan seluruh panduan yang telah dibuat benar-benar diterapkan oleh orang tua, guru, dan pihak-pihak lain yang berperan dalam perlindungan anak di ruang digital.

“Oleh karena itu mari kita sama-sama tapi bukan semata-mata untuk edukasi tapi mohon juga kita memberikan developer teknologi yang memungkinkan guiden-guiden itu bisa diharuskan. Kalau semua orang sudah menggunakan itu, KPI anda sukses,” katanya.

Sementara itu, Kepala Hubungan Pemerintah dan Kebijakan Publik YouTube Asia Tenggara Danny Ardianto menyatakan Google dan YouTube memiliki tiga pilar utama untuk memperkuat ketahanan digital generasi muda, khususnya anak-anak. Salah satunya melalui dukungan kepada keluarga dengan alat perlindungan praktis seperti fitur Family Link.

“Melalui fitur family link, kami memberikan kendali penuh kepada orang tua untuk menyaring konten baik itu di Google Search Engine atau ada juga aplikasi yang boleh diinstal melalui Google Play bahkan termasuk mengunci device tersebut atau gadget tersebut jika waktu yang diberikan sudah habis dan harus menggunakan akses orang tua, harus berdiskusi dengan orang tua untuk bisa kemudian membuka akses-akses,” kata Danny.

Selain itu, Google dan YouTube juga menghadirkan pengaturan pada fitur YouTube Shorts yang bisa disetel hingga nol menit, sehingga anak tidak dapat mengakses konten short tertentu saat menggunakan perangkat orang tua.

“Kami menyadari bahwa kebutuhan keamanan anak usia 7 tahun misalnya berbeda dengan misalkan remaja 15 tahun. Oleh karena itu kami juga menginisiasi inovasi-inovasi terbaru seperti contohnya YouTube Shorts, untuk short form yang ada di YouTube itu dapat disetel ke 0 menit. Dan kemudian juga dan pengingat waktu tidur untuk memberikan fleksibilitas penuh bagi orang tua dalam membangun kebiasaan di rumah yang sehat,” ujarnya.

Danny menambahkan, upaya perlindungan digital tersebut telah diadopsi secara luas. Hal ini tercermin dari tingginya tingkat penggunaan fitur pengawasan oleh orang tua.

“Sampai hari ini 92 persen orang tua yang menggunakan fitur pengawasan Google sepakat bahwa alat ini memberikan lingkungan digital yang lebih aman bagi anak-anak mereka,” katanya.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut