Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : AI Masuk Dunia Kerja, Bukan Cuma Gantikan Tugas tapi Ubah Workflow
Advertisement . Scroll to see content

Potensi AI Sangat Besar, Ancaman Keamanan Siber Makin Kompleks

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:02:00 WIB
Potensi AI Sangat Besar, Ancaman Keamanan Siber Makin Kompleks
Meski menawarkan peluang ekonomi besar, Wamenkomdigi Nezar Patria mengingatkan perkembangan AI juga diikuti peningkatan risiko keamanan. (Foto: GRACS 2026)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian digital Indonesia. Namun, di balik peluang ekonomi yang menjanjikan, perkembangan AI juga menghadirkan ancaman keamanan siber yang semakin kompleks.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memproyeksikan AI dapat berkontribusi sebesar 365 miliar dolar AS atau sekitar lebih Rp6.561 triliun (kurs Rp17.978 per dolar AS) terhadap ekonomi digital Indonesia pada 2030. Sementara itu, nilai ekonomi AI di kawasan Asia diperkirakan mencapai 1 triliun dolar AS.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, Indonesia memiliki peran signifikan dalam pertumbuhan ekonomi digital kawasan. Kontribusi tersebut didukung jumlah penduduk yang besar serta penetrasi internet yang terus berkembang.

"Jadi memang angkanya cukup besar, terutama posisi Indonesia yang menyumbang hampir 40 persen,” ujarnya dalam ajang IT Governance, Risk Management, Assurance & Cybersecurity Summit (GRACS) 2026 bertajuk Digital Trust in Motion: Securing the Intelligent Ecosystem di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Meski menawarkan peluang ekonomi besar, Nezar mengingatkan perkembangan AI juga diikuti peningkatan risiko keamanan. Kemampuan teknologi yang semakin canggih dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk melakukan manipulasi dan berbagai tindak kriminal dengan beragam motif, terutama untuk mendapatkan keuntungan finansial.

Kondisi tersebut membuat penguatan keamanan digital menjadi kebutuhan penting seiring meningkatnya pemanfaatan AI, komputasi awan (*cloud computing*), dan analitik data di berbagai sektor.

Executive Vice President Governance, Risk, and Compliance ITSEC Asia, Bambang Susilo, menilai tata kelola AI perlu diperkuat agar organisasi mampu mengimbangi perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.

Menurut dia, regulasi AI perlu diterjemahkan menjadi kebijakan dan ketentuan teknis yang sesuai dengan kebutuhan setiap sektor. Koordinasi antara regulator dan pelaku industri juga diperlukan agar penerapan aturan berjalan efektif.

Di sisi lain, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran dalam melindungi data pribadi saat menggunakan berbagai layanan digital. Penguatan keamanan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga membutuhkan pemahaman pengguna terhadap risiko yang mungkin muncul.

Peningkatan kompetensi sumber daya manusia turut menjadi perhatian. Profesional di bidang audit, keamanan informasi, dan manajemen risiko dituntut terus memperbarui pengetahuan serta keterampilan agar mampu menghadapi tantangan digital yang terus berubah.

President ISACA Indonesia Chapter, Harun Al Rasyid, mengatakan kecepatan perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan organisasi dalam mengelola risiko dan menjaga kepercayaan publik.

“Kecepatan perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan organisasi untuk mengelola risiko dan menjaga kepercayaan. Digital trust bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga bagaimana tata kelola, manajemen risiko, assurance, dan keamanan siber diterapkan secara terintegrasi dalam pengambilan keputusan,” ujar Harun.

Dia menambahkan, kepercayaan digital tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Keterhubungan antara organisasi, teknologi, dan layanan membuat risiko keamanan dapat berdampak luas sehingga membutuhkan kerja sama regulator, dunia usaha, penyedia teknologi, akademisi, dan komunitas profesional.

“Kolaborasi lintas sektor menjadi semakin penting karena risiko digital tidak lagi berdiri sendiri. Ketika organisasi, teknologi, dan layanan semakin terhubung, dampaknya dapat meluas ke seluruh ekosistem. Melalui GRACS 2026, kami ingin membuka ruang untuk berbagi perspektif, memperkuat kompetensi, dan mendorong kolaborasi yang dapat diterapkan di organisasi masing-masing,” kata Harun.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut