Soroti Bahaya Anak Terlalu Sibuk di Dunia Maya, Ini Usul Kak Seto
JAKARTA, iNews.id - Ketua Dewan Pakar Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau Kak Seto mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan aktivitas anak di dunia digital dan kehidupan sosial di lingkungan sekitar. Dia menilai anak jangan sampai terlalu sibuk dengan dunia maya hingga mengabaikan interaksi dengan keluarga dan tetangga.
Kak Seto menyampaikan hal tersebut saat memberikan apresiasi terhadap penerapan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).
Menurut dia, perlindungan anak di era digital tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan sekolah. Peran keluarga serta masyarakat di lingkungan tempat tinggal juga diperlukan untuk menciptakan ruang yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.
"Kami apresiasi sekali terhadap langkah Ibu Menteri, suatu langkah yang sangat berani dengan PP Tunas ini dan perlu didukung oleh seluruh masyarakat," ujar Kak Seto dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Rabu (7/10/2026).
Dia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya sibuk dengan aktivitas di dunia digital hingga kehilangan komunikasi dengan orang-orang di lingkungan sekitar.
Kak Seto kemudian mengusulkan pembentukan Seksi Perlindungan Anak di Tingkat Rukun Tetangga (SPARTA). Menurut dia, keberadaan SPARTA dapat memperkuat kepedulian masyarakat terhadap perlindungan anak sekaligus menjadi wadah komunikasi antarwarga.
"Untuk itu LPAI juga mendukung pemberdayaan masyarakat dengan membentuk SPARTA yaitu Seksi Perlindungan Anak di Tingkat Rukun Tetangga. Jadi RT-RT itu adalah keluarga yang sangat dekat dengan para dengan para keluarga. Artinya mohon jangan sibuk dengan apa, dunia digital saja, tidak saling berkomunikasi, tapi juga semua rukun," tegasnya.
Dia berharap lingkungan RT dapat menjadi ruang bagi anak untuk kembali aktif bersosialisasi secara langsung. Kegiatan bersama, termasuk permainan tradisional, dinilai dapat menjadi alternatif aktivitas di luar penggunaan perangkat digital.
"Kadang-kadang juga ya permainan-permainan tradisional, ada gobak sodor, ada engklek, ada main egrang, dan sebagainya. Jadi ada saatnya mereka bersosialisasi dengan teman, tapi ada saatnya juga sibuk dengan dunia digital," tandasnya.
Kak Seto menegaskan teknologi tetap memiliki manfaat bagi anak apabila digunakan secara tepat dan berada dalam pengawasan yang baik. Karena itu, penggunaan teknologi perlu diimbangi dengan interaksi sosial agar anak tetap memiliki kesempatan untuk bermain, berkomunikasi, dan beraktivitas bersama lingkungan sekitarnya.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan upaya mewujudkan Indonesia Layak Anak 2030, yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga hingga masyarakat di tingkat lingkungan.
Editor: Dani M Dahwilani