Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kasus Kanker Payudara di Indonesia Lebih Tinggi dari Inggris, Ini Penyebabnya
Advertisement . Scroll to see content

AI Bantu Deteksi Dini Kanker, Jadi Asisten Digital Tenaga Medis

Jumat, 27 Februari 2026 - 10:34:00 WIB
AI Bantu Deteksi Dini Kanker, Jadi Asisten Digital Tenaga Medis
Kehadiran AI menjadi “asisten digital” bagi tenaga medis dalam membaca hasil pemeriksaan radiologi maupun patologi anatomi. (Foto: Ilustrasi/AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) mulai diterapkan untuk mendukung proses diagnosis kanker payudara sekaligus skrining kanker paru secara lebih cepat, akurat, dan efisien. Implementasi teknologi ini menjadi yang pertama dilakukan di Indonesia dalam skala terintegrasi. 

Kehadiran AI diharapkan dapat menjadi “asisten digital” bagi tenaga medis dalam membaca hasil pemeriksaan radiologi maupun patologi anatomi.

Berdasarkan studi global, jumlah kasus kanker di Indonesia diproyeksikan melonjak lebih dari 70 persen pada 2050 jika upaya pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat. Saat ini, sekitar 400 ribu kasus baru kanker terdeteksi setiap tahun dengan angka kematian mencapai 240 ribu kasus.

Lonjakan tersebut menjadi alarm serius bagi sistem kesehatan nasional. Banyak pasien baru mengetahui penyakitnya ketika sudah memasuki stadium lanjut.

AI Percepat Identifikasi Tipe Kanker Payudara

Teknologi AI ini tidak hanya difokuskan pada kanker paru, tetapi juga membantu diagnosis kanker payudara. Sistem berbasis kecerdasan buatan mampu menganalisis jaringan patologi secara digital untuk mengidentifikasi status HER2 hingga ekspresi yang sangat kecil.

“Melalui implementasi teknologi AI sebagai pendamping tenaga medis, proses identifikasi tipe kanker payudara—termasuk status HER2 beserta subkategorinya—dapat dilakukan lebih cepat dan akurat. Hal ini diharapkan mendukung pengambilan keputusan terapi yang lebih tepat dan tepat waktu di praktik klinis,” kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik Dr dr Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM.

Data GLOBOCAN 2020 mencatat sekitar 65 ribu kasus baru kanker payudara di Indonesia dengan lebih dari 22 ribu kematian. Sebagian kasus berkaitan dengan ekspresi Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2), protein yang mendorong pertumbuhan sel kanker lebih agresif.

Melalui AI, hasil patologi anatomi dapat diakses secara real-time di seluruh jaringan rumah sakit Siloam di Indonesia, bahkan melalui perangkat mobile. Hal ini memangkas waktu interpretasi dan pengiriman hasil serta mempercepat keputusan klinis.

“Terapi target anti-HER2, bila diberikan secara tepat, dapat memperpanjang kelangsungan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Pemanfaatan AI juga dapat meningkatkan akurasi penilaian hingga sekitar 92 persen serta memperbaiki konsistensi antar-pemeriksa dari 66 persen menjadi 82 persen, terutama pada subkategori HER2-low dan HER2-ultralow, sehingga dapat memperkuat ketepatan klasifikasi dan pengambilan keputusan klinis,“ ujarnya.

AI Bantu Deteksi Dini Kanker Paru Lebih Efisien

Selain kanker payudara, AI bantu deteksi dini kanker paru melalui sistem skrining berbasis analisis citra CT scan. Kanker paru berdasarkan data GLOBOCAN 2020 menempati urutan ketiga sebagai jenis kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak di Indonesia.

Kanker paru umumnya ditandai munculnya nodul atau benjolan yang tumbuh tidak terkendali dan berpotensi menjadi ganas. Nodul kanker biasanya berukuran lebih besar, berbentuk bergelombang atau tajam, serta memiliki tekstur semi-padat atau tidak padat.

Melalui algoritma khusus, AI mampu mendeteksi pola-pola mencurigakan yang terkadang sulit terlihat secara kasat mata. Teknologi ini membantu dokter mengidentifikasi potensi kanker sejak tahap awal.

“Dalam hal ini, proses skrining penyakit paru khususnya kanker paru dengan bantuan teknologi AI dapat membantu dokter melakukan deteksi secara lebih efisien,” kata Subspesialis Onkologi Toraks, dr Sita Laksmi Andarini, Ph.D, Sp.P(K).

Deteksi dini menjadi kunci utama meningkatkan peluang kesembuhan. Sebab, banyak kasus kanker di Indonesia baru terdiagnosis pada stadium lanjut yang membuat pilihan terapi semakin terbatas dan biaya pengobatan meningkat.

AI bantu deteksi dini kanker paru, proses skrining diharapkan lebih sistematis, cepat, dan konsisten. Teknologi ini bukan menggantikan dokter, melainkan memperkuat akurasi analisis medis serta mempercepat pengambilan keputusan terapi.

Ke depan, integrasi kecerdasan buatan dalam layanan kesehatan diproyeksikan menjadi pilar penting menghadapi lonjakan kasus kanker nasional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat sistem deteksi dini agar angka kematian akibat kanker dapat ditekan secara signifikan.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut