Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Virus Baru ALTNV Mematikan? Ini Jawabannya!
Advertisement . Scroll to see content

Apa Itu ALTNV, Virus Baru yang Ditemukan di China? Ini Penjelasan Sainsnya

Jumat, 11 September 2026 - 17:04:00 WIB
Apa Itu ALTNV, Virus Baru yang Ditemukan di China? Ini Penjelasan Sainsnya
Virus baru ALTNV dari kutu bisa menular ke manusia. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Dunia sains kembali mencatat penemuan virus baru. Para peneliti di China mengidentifikasi Asian longhorned tick nairovirus (ALTNV), virus yang ditemukan pada pasien dengan demam dan memiliki riwayat paparan kutu.

Penemuan ini menarik perhatian karena ALTNV sebelumnya belum diketahui sebagai penyebab penyakit pada manusia. Virus tersebut ditemukan ketika peneliti menyelidiki pasien yang mengalami gejala menyerupai severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS), tetapi hasil pemeriksaan terhadap penyebab yang selama ini dikenal justru negatif.

Lantas, apa sebenarnya ALTNV? Simak informasi selengkapnya hanya di artikel ini. 

ALTNV Termasuk Kelompok Orthonairovirus

Secara ilmiah, ALTNV merupakan virus yang masuk ke dalam genus Orthonairovirus dan famili *Nairoviridae.

Peneliti menggunakan analisis filogenomik untuk mengetahui posisi ALTNV dalam pohon kekerabatan virus. Hasil analisis menunjukkan ALTNV berbeda secara genetik dari spesies Orthonairovirus yang telah dikenal sebelumnya, dengan kesamaan asam amino kurang dari 80,04 persen terhadap spesies lain dalam genus tersebut.

Dengan kata lain, ALTNV bukan sekadar varian dari virus yang sudah dikenal, tetapi merupakan virus yang memiliki karakter genetik berbeda sehingga dikategorikan sebagai Orthonairovirus yang baru diidentifikasi. ([New England Journal of Medicine][1])

Bagaimana Ilmuwan Menemukan ALTNV?

Penemuan ALTNV berawal dari sebuah teka-teki medis.

Di China, sejumlah pasien mengalami gejala yang mengarah pada SFTS, penyakit yang ditularkan melalui kutu dan berkaitan dengan Dabie bandavirus (DBV). Namun, lebih dari 30 persen pasien yang secara klinis dicurigai mengalami SFTS ternyata tidak menunjukkan hasil positif untuk DBV.

Kondisi tersebut membuat peneliti menduga adanya patogen lain yang belum teridentifikasi.

Para ilmuwan kemudian mengambil sampel dari pasien demam yang memiliki riwayat paparan kutu di wilayah China yang dikenal sebagai daerah endemis penyakit akibat kutu.

Salah satu metode yang digunakan adalah metatranskriptomik, yakni teknik pengurutan materi genetik dari berbagai organisme dalam suatu sampel sehingga peneliti dapat menemukan materi genetik patogen yang sebelumnya tidak diketahui.

Dari proses tersebut, peneliti menemukan virus yang kemudian diberi nama Asian longhorned tick nairovirus atau ALTNV. Virus tersebut juga berhasil diisolasi dan ditumbuhkan dalam kultur sel, kemudian dikonfirmasi melalui pemeriksaan imunofluoresensi. Karakteristik virus juga diamati menggunakan mikroskop elektron. 

Bukan Hanya Ditemukan pada Manusia

Penemuan ALTNV tidak berhenti pada sampel pasien.

Peneliti kemudian mencari keberadaan virus tersebut pada kutu di berbagai wilayah China. Dari 47.428 kutu yang dikumpulkan di 15 provinsi, RNA ALTNV ditemukan pada sekitar 1,29 persen sampel.

Prevalensi tertinggi ditemukan pada Haemaphysalis longicornis, yang dikenal sebagai Asian longhorned tick atau kutu tanduk panjang Asia. Sekitar 1,75 persen kutu dari spesies tersebut terdeteksi membawa RNA ALTNV. 

Temuan ini penting karena memberikan petunjuk mengenai hubungan antara virus dengan vektornya.

Eksperimen di laboratorium menunjukkan H. longicornis mampu mempertahankan ALTNV melalui beberapa tahap kehidupannya, termasuk transmisi horizontal, transstadial, dan transovarial. Kutu tersebut juga terbukti dapat menularkan virus kepada tikus dalam percobaan.

Artinya, secara biologis, kutu tersebut memiliki kemampuan untuk membawa dan mempertahankan ALTNV sehingga berpotensi berperan sebagai vektor virus.

Seperti Apa Penyakit yang Ditimbulkan ALTNV?

Pada manusia, infeksi ALTNV terutama terlihat sebagai penyakit mirip influenza.

Dalam penelitian terhadap 56 pasien yang mengalami infeksi ALTNV tanpa DBV, gejala yang paling sering ditemukan adalah kelelahan dan gangguan saluran pencernaan.

Sebanyak 84 persen pasien mengalami kelelahan, sedangkan 80 persen mengalami gejala gastrointestinal. Sebagian pasien juga mengalami trombositopenia atau penurunan jumlah trombosit serta peningkatan kadar aminotransferase yang dapat menjadi tanda adanya gangguan pada sel hati.

Menariknya, seluruh pasien dengan infeksi ALTNV saja dalam penelitian tersebut pulih tanpa gejala sisa. 

Namun, gambaran penyakit dapat berbeda ketika ALTNV ditemukan bersama DBV. Pada 38 pasien dengan koinfeksi, peneliti menemukan lebih banyak gejala pernapasan dan gangguan fungsi ginjal dibandingkan pasien yang hanya terinfeksi DBV.

Sebanyak tujuh pasien dengan koinfeksi tersebut meninggal dunia. Namun, penelitian belum membuktikan bahwa ALTNV secara tunggal menyebabkan kematian tersebut. 

Mengapa Penemuan ALTNV Penting?

Penemuan ALTNV menunjukkan bahwa masih ada patogen yang belum sepenuhnya teridentifikasi di balik penyakit demam yang berkaitan dengan gigitan kutu.

Hal ini penting secara medis karena gejala awal infeksi ALTNV dapat menyerupai penyakit lain yang juga ditularkan melalui kutu. Tanpa pemeriksaan yang tepat, infeksi tersebut berpotensi sulit dibedakan.

Para peneliti juga menyoroti adanya koinfeksi ALTNV dan DBV di wilayah yang sama. Kedua virus tersebut bahkan memiliki vektor kutu yang sama, sehingga keberadaannya perlu diperhitungkan ketika dokter melakukan diagnosis pada pasien dengan demam dan riwayat paparan kutu. 

Dengan demikian, ALTNV bukan hanya soal munculnya satu nama virus baru. Penemuan ini memperlihatkan bagaimana teknologi pengurutan genetik dapat membantu ilmuwan menemukan penyebab penyakit yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh pemeriksaan rutin.

Untuk saat ini, bukti yang tersedia menunjukkan ALTNV merupakan virus yang ditularkan melalui kutu dan berkaitan dengan penyakit demam pada manusia. 

Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami seberapa luas persebarannya, karakteristik penyakitnya, serta risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut