Apa Itu Heat Dome? Fenomena yang Bikin Suhu Paris Terpanas Sepanjang Sejarah!
PARIS, iNews.id – Gelombang panas ekstrem tengah menyelimuti sebagian besar wilayah Eropa. Prancis menjadi salah satu negara yang paling terdampak setelah suhu udara di Paris dilaporkan mencapai 41 derajat Celsius.
Suhu tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan suhu di Makkah, Arab Saudi, yang berada di kisaran 40 derajat Celsius. Apa yang menyebabkan Paris dikepung gelombang panas?
Menurut laporan Aljazeera, suhu panas ekstrem yang terjadi di Paris dan sejumlah wilayah di Eropa akibat heat dome. Akibat fenomena itu, pemerintah Prancis meminta warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan.
Menjadi pertanyaan sekarang, apa itu fenomena heat dome? Simak ulasan selengkapnya hanya di artikel ini.
Heat dome merupakan kondisi ketika area bertekanan tinggi di atmosfer bertindak layaknya penutup atau 'kubah' raksasa yang memerangkap udara panas di dekat permukaan bumi. Akibatnya, udara panas tidak dapat naik dan berganti dengan udara yang lebih sejuk.
Di bawah kubah panas tersebut, langit cenderung cerah tanpa banyak awan. Sinar Matahari pun terus memanaskan permukaan tanah sepanjang hari. Panas yang tersimpan kemudian dilepaskan kembali ke udara sehingga suhu terus meningkat dari hari ke hari.
Fenomena ini juga membuat angin menjadi lemah. Minimnya pergerakan udara menyebabkan panas terjebak lebih lama dan sulit menyebar ke wilayah lain.
Gelombang panas yang melanda Prancis kali ini tidak hanya dipicu oleh heat dome. Massa udara panas dari kawasan Afrika Utara juga bergerak ke Eropa Barat dan memperkuat kenaikan suhu.
Selain itu, suhu permukaan laut di sekitar Samudra Atlantik timur dan Laut Mediterania saat ini tercatat lebih hangat dari biasanya. Laut yang lebih hangat ikut melepaskan panas ke atmosfer, sehingga suhu tetap tinggi, bahkan saat malam hari.
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat suhu di Paris melonjak hingga mencapai 41 derajat Celsius, jauh di atas rata-rata musim panas yang umumnya berada di kisaran 25 hingga 30 derajat Celsius.
Meski suhu di Timur Tengah atau Afrika sering kali lebih tinggi, gelombang panas di Eropa dinilai memiliki dampak yang lebih besar. Salah satu alasannya, sebagian besar bangunan dan infrastruktur di kawasan tersebut dirancang untuk menghadapi musim dingin, bukan cuaca panas ekstrem.
Diperkirakan hanya sekitar 20 persen rumah di Eropa yang memiliki pendingin udara (AC). Akibatnya, suhu di dalam rumah dapat tetap tinggi hingga malam hari sehingga meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga heat stroke, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis.
Menurut para ilmuwan, heat dome bukanlah fenomena baru. Namun, perubahan iklim akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca membuat dampaknya menjadi jauh lebih ekstrem.
Pemanasan global meningkatkan suhu dasar atmosfer. Ketika heat dome terbentuk, udara yang sudah lebih hangat akan terperangkap sehingga suhu dapat melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Data iklim menunjukkan Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Sejak pertengahan 1990-an, suhu rata-rata di kawasan tersebut meningkat sekitar 0,56 derajat Celsius setiap dekade, lebih dari dua kali rata-rata global.
Karena itu, para ilmuwan memperingatkan bahwa gelombang panas ekstrem seperti yang kini melanda Paris berpotensi menjadi lebih sering, lebih intens, dan berlangsung lebih lama apabila laju perubahan iklim tidak berhasil ditekan.
Editor: Muhammad Sukardi