Apa Itu Super New Moon 14 Juli? Ini Penjelasan Ilmiah dan Dampaknya bagi Bumi
JAKARTA, iNews.id – Super New Moon akan terjadi hari ini, Selasa (14/7/2026). Fenomena alam ini berpotensi menyebabkan banjir rob, kenapa begitu?
Berdasarkan data astronomi, fase bulan baru (New Moon) mencapai puncaknya sekitar pukul 16.44 WIB. Pada saat yang sama, Bulan juga berada di dekat perigee, yaitu titik orbit terdekatnya dengan Bumi. Kombinasi inilah yang dikenal sebagai Super New Moon.
Lantas, apa sebenarnya Super New Moon dan mengapa fenomena ini bisa memengaruhi kondisi di Bumi?
Super New Moon adalah kondisi ketika Bulan berada dalam fase bulan baru sekaligus berada di dekat perigee, yakni jarak terdekat Bulan dengan Bumi dalam lintasan orbitnya.
Pada fase bulan baru, posisi Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi. Akibatnya, sisi Bulan yang menghadap ke Bumi tidak menerima cahaya Matahari sehingga Bulan tampak tidak terlihat dari permukaan Bumi.
Istilah 'supermoon' lebih sering terdengar ketika terjadi bulan purnama karena Bulan terlihat lebih besar dan terang. Namun, istilah yang sama juga digunakan saat fase bulan baru terjadi berdekatan dengan perigee, meski fenomenanya tidak dapat diamati secara kasatmata.
Meski tidak terlihat di langit, gaya gravitasi Bulan tetap bekerja terhadap Bumi. Ketika Bulan berada lebih dekat dari biasanya, tarikan gravitasinya menjadi sedikit lebih kuat.
Pada saat bersamaan, Matahari dan Bulan berada hampir segaris terhadap Bumi karena memasuki fase bulan baru. Kondisi ini membuat gaya tarik gravitasi keduanya saling memperkuat sehingga menghasilkan pasang purnama (spring tide), yaitu pasang air laut yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Akibatnya, wilayah pesisir yang memang rentan terhadap pasang laut berpotensi mengalami banjir rob, terutama jika bertepatan dengan cuaca buruk, gelombang tinggi, atau penurunan permukaan tanah (land subsidence).
Karena itu, fenomena Super New Moon sering menjadi salah satu faktor yang dipantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam memberikan peringatan dini terkait potensi banjir pesisir.
Super New Moon bukanlah fenomena yang berbahaya. Fenomena ini merupakan bagian dari siklus alami orbit Bulan yang terjadi beberapa kali dalam setahun.
Dampaknya terhadap manusia secara langsung juga sangat kecil. Hingga kini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa Super New Moon dapat memengaruhi kesehatan, emosi, atau perilaku manusia.
Pengaruh yang telah terbukti secara ilmiah adalah terhadap pasang surut air laut akibat interaksi gravitasi Bulan dan Matahari. Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir diimbau untuk lebih waspada terhadap informasi prakiraan pasang laut dan peringatan dini banjir rob dari BMKG.
Pada 14 Juli 2026, fase bulan baru mencapai puncaknya sekitar 16.44 WIB. Meski tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, fenomena ini menandai dimulainya siklus bulan baru yang nantinya akan berkembang menjadi sabit tipis beberapa hari setelahnya.
Bagi masyarakat umum, Super New Moon lebih penting dipahami dari sisi ilmiahnya, yakni sebagai fenomena astronomi yang dapat memengaruhi dinamika pasang surut air laut, bukan karena klaim-klaim astrologi yang hingga kini belum memiliki dasar ilmiah.
Editor: Muhammad Sukardi