Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : AS Luncurkan Pesawat Luar Angkasa Artemis II, Buka Jalan Kirim Manusia ke Bulan
Advertisement . Scroll to see content

Bakal Sapa Bumi Nanti Malam, Apa Itu Supermoon?

Minggu, 03 Desember 2017 - 12:59:00 WIB
Bakal Sapa Bumi Nanti Malam, Apa Itu Supermoon?
Supermoon (Foto: Reuters)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Fenomena supermoon bakal menyapa Bumi nanti malam, Minggu (3/12/2017). Supermoon ini sendiri, merupakan fenomena pertama dan terakhir yang terlihat di 2017.

Supermoon merupakan bulan baru atau full moon yang bertepatan dengan perigee, titik terdekat Bulan ke Bumi dalam orbit bulanannya. Bulan biasanya memiliki jarak sekira 238.000 mil dari Bumi. Tapi ketika di perigee, hanya berjak 222,135 mil dari Bumi.

Kombinasi antara fisik yang lebih dekat dengan Bumi dan full moon, membuatnya terlihat jauh lebih besar dan cerah. "Secara umum, full moon terjadi di dekat perigee setiap 13 bulan 18 hari. Jadi, tidak terlalu aneh," kata Geoff Chester dari Obsevatorium Angkatan Laut AS.

Sebagaimana dikutip iNews.id dari Huffington Post, Minggu (3/12/2017), menurut NASA, supermoon bisa berukuran 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari bulan pada umumnya.

Untuk melihat Supermoon ini, tidak diperlukan peralatan khusus atau teleskop. Anda hanya perlu berada di tempat yang tidak padat penduduk untuk meminimalkan polusi cahaya. Sementara itu, besar atau tidak ukuran bulan yang dilihat, tergantung pada sudut pandang Anda.


Mengapa Supermoon Jadi Fenomena Langka?
Supermoon tidak terjadi setiap bulan karena orbit bulan berubah orientasi saat Bumi mengelilingi Matahari. Jadi, sumbu panjang jalan elips bulan mengelilingi Bumi menunjuk ke arah yang berbeda (atau baru), tidak akan selalu terjadi di perigee.

Efek Supermoon
Full moon kerap dikaitkan dengan mitos-mitos tertentu dan terbukti tidak berpengaruh kepada manusia. Meski begitu, supermoon diyakini memiliki dampak pada perairan Bumi.

Menurut laporan The Sun, saat full moon lebih dekat ke Bumi, tingkat pasang surut sering kali lebih tinggi. Meski tidak ada bukti ilmiah yang kuat, namun beberapa astrobiologi boffins percaya, bahwa supermoon bertanggung jawab atas tsunami di Tohuku pada 2011 dan Samudera Hindia pada 2004.

Editor: Dini Listiyani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut