Batu Aneh Ditemukan di Yordania, Diduga sebagai Bidak Catur Tertua

Dini Listiyani ยท Minggu, 01 Desember 2019 - 05:01 WIB
Batu Aneh Ditemukan di Yordania, Diduga sebagai Bidak Catur Tertua

Batu aneh ditemukan di Yordania, diduga sebagai bidak catur tertua (Foto: Wikimedia)

AMMAN, iNews.id - Catur ternyata telah menghibur manusia sejak lama. Seorang arkeolog telah menemukan bidak catur tertua yang berusia 1.300 tahun.

Obyek batu pasir, yang memiliki kemiripan dengan benteng, digali pada 1991 di Humayma, Yordania Selatan. Berdasarkan analisis baru oleh arkeolog John Oleson dari University of Victoria, benda dapat mendului temuan yang ada sekitar 100 tahun atau lebih.

Dikutip dari Science Alert, Minggu (1/12/2019), dia mengatakan benda itu adalah obyek yang lebih dekat dengan bidak catur kuno dibanding benda artefak dari agama tertentu. Meskipun bentuknya menyerupai altar atau betyl Nabati.

Bentuk batu cocok dengan potongan-potongan tanggal, diukir dari batu, kayu atau gading, dan ditemukan di wilayah yang sama. Dengan permainan catur yang diduga dibawa ke barat dari India oleh pedagang keliling dan diplomat, lokasi penemuan itu cukup masuk akal.

Humayman, lokasi penemuan, terletak di Via Nova Traiana, rute perdagangan terkenal pada saat itu, dapat menjdai jalan Romawi kuno yang memainkan peran besar dalam permainan menuju ke Timur Tengah dan Eropa. Referensi terhadap catur dapat ditemukan sejauh abad ke-7 dalam teks-teks Islam, tidak lama sebelum asal tanggal benteng ini diperkirakan.

Meskipun tidak persis seperti benteng atau kastil set catur modern, game dan bagian-bagiannya telah berubah secara substansial dari waktu ke waktu. Benteng awalnya dianggap dirancang agar terlihat seperti kereta pertempuran dual-house, dan bagian ini kemungkinan menjadi salinannya.

Analisis yang lebih rinci akan diperlukan untuk membuktikan batu pasir sederhana ini benar-benar dapat diklaim sebagai bidak catur tertua yang ditemukan hingga saat ini. Temuan ini telah dipresentasikan di pertemuaan tahunan American Schools of Oriental Research 2019.


Editor : Dini Listiyani