Berlian Langka Ditemukan di Dalam Meteorit yang Jatuh ke Bumi
MENLO PARK, iNews.id - Sebuah metorit yang jatuh ke Bumi satu dekade lalu merupakan bagian dari planet yang telah lama hilang terbentuk di awal tata surya, hanya beberapa juta tahun setelah kelahiran Matahari.
Meteorit yang disebut Almahata Sitta mengandung berlian mikroskopis berasal dari planet embrionik misterius yang pernah mengitari Matahari 4,5 miliar tahun lalu. Celestial body, yang sedikit lebih besar dari Merkurius dihancurkan dalam tabrakan kosmik yang epik.
Menariknya, berlian langka di dalamnya memberikan para ilmuwan jendela soal informasi pembentukan planet. Puluhan dunia pemula ini, yang umumnya berukuran antara Bulan dan Mars, saling menghancurkan untuk membentuk planet berbatu yang dilihat hari ini.
Almahitta Sitta dinamai dari lokasi di Sudan. Para saksi di kota Wadi Halfa dan di gurun Nubia, yang dikenal sebagai Station Six atau Almahata Sitta dalam bahasa Arab melaporkan, mereka telah melihat 'bola api' seperti roket di langit.
Jenis meteorit yang sangat langka ini, yang dikenal sebagai ureilite merupakan salah satu famili utama meteorit. Berlian di meteorit memiliki kristal kecil di dalamnya yang akan membutuhkan tekanan besar untuk terbentuk.
Body planet induk dari mana mereka terbentuk diyakini telah secara besar-besaran terganggu oleh dampak selama 10 juta tahun pertama tata surya. "Ada lebih dari 480 meteorit yang diklasifikasikan sebagai ureilites," kata peneliti utama Dr Farhang Nabiei dari Swiss Federal Institute of Technology yang dikutip dari Daily Mail, Kamis (19/4/2019).
"Ada banyak meteorit yang berasal dari Mars atau Bulan. Namun, proto-planet khusus ini telah dihancurkan pada awal tata surya dan hal tersebut unik sejuah ini. Simulasi pembentukan planet menunjukkan, mereka merupakan puluhan embrio planet dalam kisaran ukuran antara Bulan dan Mars di awal tata surya," jelasnya.
Tim yang dipimpin Swiss menggunakan teknik pemindaian yang kuat, yang disebut transmisi elektron mikroskop. Mereka memeriksa kristal kecil yang tertanam di dalam berlian di meteorit untuk membuat penemuan.
Penelitian menunjukkan, berlian terbentuk pada tekanan di atas 20 gigapascals atau 197,385 kali tekanan atmosfer Bumi di permukaan laut. Ini setara dengan miliaran ton batu yang mendorong turun dari atas, menghancurkan kekuatan yang begitu tinggi yang pasti terjadi pada planet proto-planet Merkurius.
"Model pembentukan planet menunjukkan planet-planet terrestrial terbentuk oleh pertambahan puluhan embrio planet berukuran Bulan hingga Mars melalui dampak raksasa energetik. Namun, peninggalan proto-planet besar ini belum ditemukan," ujar Nabiei.
Hampir 50 fragmen dari 83 ton asteroid dikumpulkan di padang pasir di Sudan utara di mana ia jatuh pada Oktober 2008. Bongkahan batu berukuran bus pertama kali terdeteksi oleh para astronom di Amerika Serikat (AS) dan menjadi berita utama karena dilacak oleh teleskop di seluruh dunia.
Meteorit akhirnya hancur di atmosfer di atas gurun Nubian, tidak menimbulkan ancaman bagi kehidupan manusia. Para peneliti mempelajari bagian dari ureilite Almahata Sitta, di mana berlian besar terbentuk pada tekanan tinggi di dalam planet induk mereka.
"Kami menemukan inklusi kromit, fosfat, dan sulfida yang tertanam di dalam berlian. Komposisi dan morfologi inklusi hanya bisa dijelaskan jika teknana formasi lebih tinggi dari 20 gigapascals. Tekanan semacam itu menunjukkan, tubuh induk ureilite merupakan embrio planet Merkurius hingga Mars," paparnya.
Para peneliti mengatakan, jenis meteorit ini merupakan saisa-sisa terakhir dari planet yang hilang ini. Pencarian tanah yang luas menemukan 47 fragmen meteorit untuk analsisi.
Editor: Dini Listiyani