Di Simulasi PBB Ini, Anak Muda Terbuka Bahas Konflik Antarnegara hingga Hukuman Mati
MAGELANG, iNews.id – Konflik antarnegara ternyata bisa menjadi bahan pembelajaran bagi anak muda untuk memahami arti diplomasi. Bukan sekadar membicarakan siapa yang benar atau salah, para pelajar justru diajak mencari cara meredakan ketegangan melalui dialog dan negosiasi.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam AYIMUN Presents Taruna Nusantara MUN yang digelar di Magelang, Jawa Tengah. Sebanyak 301 pelajar dari 31 provinsi mengikuti simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan membahas berbagai persoalan global.
Salah satu topik yang diangkat yakni ketegangan antara Kamboja dan Thailand. Melalui forum DISEC, peserta membahas tema 'The Good Neighbour: De-escalating Tensions among Cambodia and Thailand' yang berfokus pada upaya meredakan ketegangan di antara kedua negara.
Dalam simulasi PBB tersebut, para pelajar tidak hanya diminta memahami latar belakang persoalan. Mereka juga harus mengambil posisi sebagai perwakilan negara, menyusun argumen, melakukan negosiasi dengan pihak lain, hingga merancang solusi yang dituangkan dalam rancangan resolusi.
Pengalaman tersebut membuat isu geopolitik yang selama ini terasa jauh dari kehidupan pelajar menjadi bahan diskusi yang lebih konkret. Mereka belajar bahwa penyelesaian persoalan antarnegara membutuhkan komunikasi dan kemampuan memahami kepentingan pihak lain.
Tak hanya konflik antarnegara, isu hak asasi manusia (HAM) juga dibahas dalam forum tersebut. Dalam UNHRC, peserta mengangkat tema 'Reassessing the Necessity of the Death Penalty' yang membahas kembali persoalan penerapan hukuman mati.
Sementara itu, forum ILO membahas persoalan yang lebih dekat dengan dunia kerja, yakni stigma dan diskriminasi terhadap pekerja dengan penyakit kronis dan penyandang disabilitas melalui tema 'Addressing Stigma and Discrimination Against Workers with Chronic Illness and Disabilities'.
Ketiga isu tersebut memperlihatkan luasnya persoalan yang harus dipahami generasi muda ketika memasuki percakapan global. Dari konflik geopolitik, HAM, hingga persoalan kesetaraan di dunia kerja, peserta dituntut melihat persoalan dari berbagai perspektif.
Kepala SMA Taruna Nusantara Magelang, Mayjen TNI M.I. Gogor A.A., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempersiapkan siswa agar tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga siap berpartisipasi dalam isu-isu global.
Dia menilai tantangan dunia saat ini semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, perkembangan teknologi, kesenjangan sosial hingga persoalan geopolitik.
Tema 'From Taruna Nusantara to the Global Stage' pun diangkat untuk menggambarkan semangat tersebut, yakni mendorong siswa agar mampu berdialog, berkolaborasi, dan memahami beragam perspektif dalam menghadapi persoalan dunia.
Presiden IGN Muhammad Fahrizal mengatakan pendidikan bagi generasi muda tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik. Kepemimpinan, karakter, identitas kebangsaan, serta kesiapan menghadapi persaingan global juga menjadi bagian penting.
"Perjalanan kalian menuju panggung global tidak dimulai suatu hari nanti. Perjalanan itu dimulai sekarang, ketika kalian mengangkat placard, memilih dialog daripada permusuhan, mengubah gagasan menjadi tindakan," ujar Fahrizal dalam keterangan resminya, Senin (5/10/2026).
Dalam simulasi tersebut, peserta menjalani tahapan yang menyerupai persidangan internasional. Mereka melakukan riset, menentukan posisi negara, menyampaikan argumen, bernegosiasi, hingga menyusun rancangan resolusi.
Sebanyak 301 peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta utama berasal dari enam kampus SMA Taruna Nusantara, yakni Magelang, Cimahi, IKN, Langowan, Malang, dan Pagar Alam. Selain itu, sekitar 40 sekolah non-Taruna Nusantara juga ikut ambil bagian.
Forum tersebut turut melibatkan chair dari Indonesia, Taiwan, Prancis, dan Slovakia. Kehadiran mereka memberikan pengalaman bagi peserta untuk mengikuti mekanisme Model United Nations (MUN) dengan perspektif yang lebih beragam.
AYIMUN Presents Taruna Nusantara MUN direncanakan menjadi kegiatan tahunan dan berpotensi dikembangkan ke tingkat internasional.
Bagi para peserta, simulasi ini bukan sekadar latihan berbicara di depan forum. Mereka juga belajar bahwa memahami persoalan dunia membutuhkan keberanian menyampaikan pendapat sekaligus kemampuan mendengarkan dan mencari titik temu.
Editor: Muhammad Sukardi