Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Tanda Aliran Lava Ditemukan, Bukti Aktivitas Gunung Berapi Venus Terus Bertambah
Advertisement . Scroll to see content

Gelombang Berskala Planet Tersembunyi di Awan Beracun Venus

Sabtu, 08 Agustus 2020 - 20:12:00 WIB
Gelombang Berskala Planet Tersembunyi di Awan Beracun Venus
Gelombang berskala planet tersembunyi di awan beracun Venus (Foto: (Javier Peralta/JAXA-Planet C team)
Advertisement . Scroll to see content

CALIFORNIA, iNews.id - Jauh di dalam awan tebal dan beracun yang melingkari Venus, atmosfernya bertingkah aneh. Dinding awan raksasa yang sebelumnya tidak diketahui bergerak ke arah barat mengelilingi planet setiap 4,9 hari.

Tindakan aneh awan tebal Venus sudah terjadi setidaknya sejak 1983. Awan mempunyai panjang mencapai 7.500 km, membentang melintasi khatulistiwa ke lintang utara dan selatan, di ketinggian relatif rendah antara 47,5 dan 56,5 km.

Fenomena seperti itu belum pernah terlihat di tempat lain di Tata Surya. "Jika ini terjadi di Bumi, ini akan menjadi permukaan frontal dalam skala planet. Itu luar biasa," kata astrofisikawan Pedro Machado dari Institute of Astrophysics and Space Sciences di Portugal yang dikutip dari Science Alert, Sabtu (8/8/2020).

Venus adalah tempat yang ekstrem untuk planet zona layak huni berbatu. Planet benar-benar diselimuti atmosfer tebal yang hampir seluruhnya terdiri atas karbon dioksida yang berputar 60 kali lebih cepat dari planet itu sendiri, sehingga menghasilkan angin gila.

Atmosfer menghujani asam sulfat dan tekanan atmosfernya pada ketinggian 0, hampir 100 kali lebih besar dari tekanan Bumi. Suasana mendung itu merupakan tempat yang memesona dan rawan gelomang besar.

Struktur seperti busur yang panjangnya 10.000 km yang datang dan pergi di atmosfer atas adalah gelombang gravitasi stasioner, yang diperkirakan dihasilakan oleh atmosfer berputar bertiup ke arah gunung di permukaan. Gelombang berbentuk Y yang mengelilingi planet lainnya di puncak awan adalah gelombang yang terdistorsi angin kuat Venus.

Tapi masih ada lagi. Saat mempelajari gambar infrared yang diambil Venus orbiter Jepang Akatsuki antara 2016-2018, tim peneliti yang dipimpin fisikawan Javier Peralta dari Japanese Space Agency (JAXA) menemukan fitur yang sangat mirip dengan gelombang atmosfer. Tapi, pada ketinggian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Fitur barunya berbeda. Ini jauh lebih dalam dibanding gelombang atmosfer yang pernah terlihat sebelumnya di Venus, terjadi di lapisan awan yang bertanggung jawab atas efek rumah kaca yang membuat permukaan menjadi sangat panas.

Analisis yang cermat dan studi pengamatan masa lalu menunjukkan fitur tersebut telah berulang. Tapi, sampai sekarang tidak diketahui, setidaknya sejak 1983 karena hanya dapat muncul melalui kumpulan pengamatan dari sejumlah besar instrumen selama periode waktu tertentu.

Fitur yang baru diidentifikasi dapat menjangkau hingga 7.500 km dan mengelilingin planet sekali setiap 4,9 hari dengan kecepatan sekitar 328 km per jam. Itu sedikit lebih cepat dari awan pada level ini, yang memiliki periode rotasi sekitar 5.7 hari. Namun, masih belum diketahui apa penyebabnya.

"Gangguan atmosfer ini adalah fenomena meteorologi baru, yang tidak terlihat di planet lain. Karena itu, masih sulit untuk memberikan interpretasi fisik yang meyakinkan," ujar Peralta.

Simulasi numerik mengungkapkan banyak sifat gangguan dapat dilihat dalam gelombang Kelvin. Di Bumi, ini adalah gelombang gravitasi besar yang terkadang terperangkap di khatulistiwa dan dipengaruhi oleh rotasi planet.

Layaknya gelombang Kelvin Bumi, fitur Venus menyebar ke arah yang sama dengan angin yang mengelilingi planet dan tidak berpengaruh pada angin meridional yang bertiup antara utara dan selatan.

Jika fitur adalah gelombang Kelvin, mereka bisa memiliki implikasi yang menarik. Namun, tidak dipahami mengapa atmosfer Venus berputar begitu cepat.

Gelombang Kelvin dapat berinteraksi dengan jenis gelombang atmosfer lainnya seperti Rossby. Ini bisa berimplikasi pada super-rotasi atmosfer. Dan, gelombang Kelvin juga dapat membantu peneliti memahami hubungan antara topografi permukaan Venus dan dinamika atmosfernya.

"Karena gangguan itu tidak dapat diamati dalam gambar ultraviolet merasakan puncak awan pada ketinggian sekitar 70 km, menegaskan sifat gelombangnya sangat penting," ujar Peralta. 

Editor: Dini Listiyani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut