Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Tragis! 3 Astronaut China Terlantar di Luar Angkasa gegara Tabrak Puing Antariksa
Advertisement . Scroll to see content

Gunakan Pesawat SOFIA, Peneliti Mempelajari Atmosfer Pluto

Sabtu, 15 Agustus 2020 - 20:07:00 WIB
Gunakan Pesawat SOFIA, Peneliti Mempelajari Atmosfer Pluto
Planet Pluto (Foto: NASA)
Advertisement . Scroll to see content

SAN FRANCISCO, iNews.id - Planet kerdil adalah objek aktif secara geologis dengan atmosfer tipis. Penerbangan NASA New Horizon pada 2015 menampilkan segala kemegahan planet kerdil, khususnya para astronom.

Para peneliti bertanya-tanya apakah atmosfer itu permanen atau berubah seiring musim saat planet mengorbit Matahari. Studi lama mengansumsikan ketika Pluto mendekati Matahari, es di planet katai berubah menjadi gas dan ketika bergerak lebih jauh, itu mengembun dan membeku sekali lagi.

Melansir dari IFLScience, studi baru yang diterbitkan di Icarus menunjukkan kenyataannya tidak demikian. Dengan menggunakan Observatorium Stratosfer untuk Astronomi Inframerah, atau SOFIA, para peneliti mempelajari atmosfer selama okultasi bintang.

Ketika Pluto lewat di depan sebuah bintang, SOFIA menggunakan cahaya bintang tersebut untuk mempelajari atmosfer. Pengamatan dari SOFIA ini dilakukan hanya beberapa minggu sebelum penerbangan luar biasa New Horizons di Pluto.

Orbit Pluto jauh lebih berbentuk telur daripada Bumi, dalam perjalanannya selama 248 tahun mengelilingi Matahari, dia menghabiskan 20 tahun lebih dekat ke Matahari daripada Neptunus. Ini terakhir terjadi antara 1979 dan 1999, jadi sekarang bergerak ke orbit yang lebih dingin dan lebih jauh, setidaknya untuk saat ini tampaknya atmosfer tidak terpengaruh.

Penulis utama Michael Person, direktur Wallace Astrophysical Observatory dari Massachusetts Institute of Technology, mengatakan ada petunjuk dalam pengamatan jarak jauh sebelumnya mungkin ada kabut asap, tetapi masih belum ada konfirmasi hingga datanya memang ada dari SOFIA.

Person juga menambahkan, atmosfer Pluto mungkin akan runtuh lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya, atau mungkin bahkan tidak sama sekali runtuh. Untuk mengetahuinya, peneliti masih harus terus memantaunya. Kabut atmosfer terbuat dari partikel-partikel kecil dengan ketebalan sekitar 0,06-0,10 mikron, sekitar 1.000 kali lebih kecil dari rambut manusia, sehingga memberikan nuansa biru puitis pada atmosfer Pluto.

Editor: Dini Listiyani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut