Ilmuwan Pecahkan Misteri Lingkaran Peri Namibia
JAKARTA, iNews.id - Lingkaran misterius muncul di gurun pesisir Namib, Afrika Selatan. Dijuluki lingkaran peri, mereka mempunyai bentuk bundar secara seragam di padang rumput gersang.
Dilihat melalui udara, pola tampak seperti bintik-bintik pada kain. Hingga 2014, fenomena diketahui hanya terjadi di sepanjang Gurun Namib. Namun, belakangan formasi yang serupa ditemukan dekat kota pertambangan Newman di Australia Barat.
Kendati demikian, lingkaran peri di Namibia tetap menjadi yang paling terkenal dan menarik bagi para ilmuwan dan telah dipelajari sejak 1970-an. Teori tentang pembentukan dan fungsi mereka sangatlah banyak.
Sayang sejauh ini tidak ada yang mampu membuktikan jawaban benar untuk teka-teki yang telah berusia puluhan tahun ini. Manajer Riset di Institut Penelitian Gobabeb-Namib, Eugene Marais pun mencoba untuk menjelaskan fenomena ini.
“Itu adalah area melingkar yang kosong, tidak ada apa-apa di atasnya, dan ada cincin rumput di sekitarnya. Jika dilihat dari udara atau dari tempat yang tinggi, hampir terlihat seperti bercak campak,” kata Marais, melansir dari Oddity Central, Jumat (4/9/2020).
Para ilmuwan telah mencoba menjelaskan alasan mengapa lingkaran tandus ini ada selama beberapa dekade. Meskipun sains telah berkembang sejak tahun 70 an, tapi manusia masih kesulitan memahami fenomena alam yang misterius ini.
“Kami duduk dengan sesuatu yang seharusnya mudah dijelaskan, namun menemukan penjelasan yang dapat diterima di mana Anda dapat menunjukkan apa yang menyebabkannya ternyata ternyata sangat sulit,” lanjutnya.
Terlepas dari penjelasan mistis dan sci-fi atau akibat UFO mendarat di gurun pada malam hari, ada beberapa penjelasan yang masuk akal mengapa lingkaran peri tersebut bisa ada.
Beberapa ilmuwan yakin itu ada hubungannya dengan rayap yang menjadikan Namib sebagai rumah mereka. Penelitian telah menunjukkan ada koloni rayap di bawah sebagian besar lingkaran tandus yang dibatasi oleh tumbuh-tumbuhan.
Teori mengatakan koloni rayap menyerang dan menaklukkan satu sama lain. Tetapi ketika koloni berukuran sama bertemu, mereka tidak dapat memusnahkan satu sama lain. Akibatnya mereka menciptakan penyangga di antara mereka.
Teori lainnya mengatakan bahwa lingkaran peri adalah hasil persaingan tanaman untuk memperebutkan air yang langka dan jatuh di Namib setiap tahun.
Tanaman membantu tetangga terdekat mereka dengan menciptakan dan menjaga air di permukaan tanah. Sayangnya kondisi ini hanya menghalangi pertumbuhan lainnya dengan menumbuhkan akar yang panjang dan mengekstraksi air dari tanah.
Ada juga yang percaya bahwa lingkaran peri terhubung ke semak beracun Euphorbia yang tumbuh di Namib. Sebab beberapa sisa dari tanaman ini telah ditemukan di lingkaran peri.
Tetapi kenyataannya adalah tidak ada yang tahu pasti apakah salah satu dari teori-teori ini adalah benar.
Penelitian yang dilakukan pada lingkaran peri baru di Australia menemukan bahwa rayap tidak menyebabkan bercak tandus, tetapi rayap merupakan hasil dari proses abiotik seperti pelapukan mekanis tanah oleh hujan lebat dalam siklon, panas yang ekstrim, dan penguapan.
“Celah vegetasi yang disebabkan rayap pemanen hanya berukuran setengah lingkaran peri dan lebih sedikit lagi keteraturannya. Dan dalam kebanyakan kasus, kami bahkan tidak menemukan termitaria bawah tanah keras yang di tempat lain di Australia mencegah pertumbuhan rumput,” jelas Dr. Stephan Getzin dari Universitas Göttingen.
Teka-teki lingkaran peri masih harus dipecahkan, dan meskipun para ilmuwan telah membuat kemajuan sejak tahun 1970-an, kita mungkin tidak pernah benar-benar tahu apa tujuan dari formasi ini.
Editor: Dini Listiyani